Masih Sama, Mungkin

Sahabatmu adalah jawaban dari kebutuhanmu. Dialah ladang hati yang kau tebar dengan cinta, dan kau panen penuh terimakasih”
Kahlil Gibran, Sang Nabi

Kita masih angsa, nama yang di dalamnya pernah kita tabur beribu asa, harapan juga doa untuk masa depan.
Malam panjang ini ku habiskan untuk mengenang kita. Tentang ribuan hari yang pernah kita lewati bersama. Entah itu tentang tawa kita yang nyaring atau tangis kita yang pernah pilu.
Adalah kita, individu yang bertahan dari takdir yang mulia. Dipersatukan oleh latar belakang yang nyaris sama juga oleh mimpi yang pasti sama.
Pernah, kita disebut generasi terbaik jajaran bangsa. Pemuda yang diciptakan sebagai agen perubahan. Bibit unggul yang dipersiapkan dengan karakter serta prestasi terbaik. Pernah.
Tapi pelan waktu berputar. Juga kita yang terhempas ke dalam dunia nyata. Mimpi menjadi hal yang aneh untuk dibicarakan. Kita berevolusi menjadi pribadi yang tak dikenali. Tak mampu lagi mengenali cita dengan baik, sibuk berkompromi, penuh dengan pembelaan diri jika telah menjalankan hidup dengan baik.
Mental kerupuk. Begitu kita menyebutnya dahulu.
Survive. Itu seharusnya kita.
Namun musim gugur tetap tiba, satu persatu menghilang. Entah kemana. Mungkin berbenah diri atau sibuk membela diri. Menyalahkan keadaan, menyalahkan waktu, mungkin juga menyalahkan Tuhan.
Kita memang seharusnya sudah berpisah, tak bergandengan lagi layaknya barisan kita menuju sekolah. Tapi kita lupa, ini adalah amanah bersama. Untuk kita menjadi bagian dari beribu cerita sukses di masa depan.
Aku tak bilang aku rindu kita yang dulu, meski ia. Aku tak bilang kita berubah, karena seharusnya kita tak sama. Tapi aku ingin bilang, kita saling lupa, meski aku yakin tidak.
Kita lupa bagaimana bertanya kabar. Sehingga ketika berita duka datang yang tersisa hanya tanya kenapa. Mungkin begitulah akhirnya tanpa kita sadari satu persatu tak mampu lagi kita temui. Bahkan sekedar untuk bertanya melewati media yang setiap dari kita hidup di dalamnya.
Juga aku adalah bagian dari kita. Tak bisa menyalahkan adanya batas yang tercipta oleh jarak. Tak bisa menginginkan hal yang sama untuk terjadi.
Juga aku. Yang pernah hilang arah. Menggapai apa saja untuk bisa jadi pegangan.
Mungkin tak semua dari kita, atau bisa jadi hanya aku. Tapi meski kalian tak sepakat, akui sajalah kita telah kehilangan mimpi itu. Mimpi angsa.
Memang benar sekarang masih proses yang kita lalui. Karena masih tahap inilah aku ingin kita berbenah. Jika menunggu sepuluh tahun ke depan aku takut lebih dari sekedar menyesal yang singgah di diri kita.
Untuk kau yang memutuskan menyerah, atau kau lebih suka menyebutnya memilih jalan lain, maafkan aku yang hanya bisa bersuara tanpa nama. Terlambat memberimu secercah harapan. Lupa menyakinkan kau bahwa kita bisa melewatinya bersama-sama.
Untuk kau yang ingin bersembunyi, atau kau lebih suka menyebutnya mengambil resiko, maafkan aku yang tak mampu mendengar. Tak memahami kau butuh pegangan, kau butuh dari sekedar kata selamat malam. Juga butuh motivasi yang dulu kita dengar dengan wajah merekah.
Aku terlampau sibuk. Sibuk menyakinkan jika aku masih yang dulu. Temanmu yang pernah punya mimpi.
Untuk kau, yang juga mengalami hal serupa. Ayo bangkit. Kita belum terlambat.
Untuk kau yang lupa pada kami. Sapa kami dengan impianmu, meski hanya lewat pesan randommu di kolom chat kami, itu lebih dari sekedar berarti.
Untuk kita yang lupa mengingat. Ayo buka lagi halaman itu. Lembaran kita Impian kita yang pernah panjang. Lagu masa depan kita yang dulu merdu. Cita kita yang tak terhingga. Harapan kita yang tak padam.
Bukalah, ingatlah.
Semuanya...
Tentang kita.
Lima puluh satu atau enam puluh satu, ah, berapapun jumlahnya kita pernah menjadi satu.
Angsa.


Desember 2016.
Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar
Amelt@za
AUTHOR
20 Juli 2020 pukul 16.20 delete

Dulu, kita bersatu krn ada ikatan kemaslahatan bernama Angsa. Iktan kita semakin kuat, saat kita diterpa ketidak adilan sistem. Namun, saat ombak tenang iktn itu renggang. Di dalamnya individu punya kelompok2 kecil. Aku tak menyalahkan itu. Krn akupun turut mencari kelompok kecil itu. Agar aku punya teman, agar aku tak kesepian. Masih segar di ingatan, saat abi hendri mengisi acara sejenis hipnoterapi, malam itu, di SCH. Saat semua disuruh menutup mata, kemudian memeluk teman disebelahnya. Aku membuka mataku, melihat ke kiri, ke kanan, depan, dan belakang. Tdk ad teman yg bisa aku peluk. Semua sudah saling berpelukan dan menangis. Wkwkwkkwkwkwkw. Saat itu aku ngerasa “nyesek” sih. Tapi saat aku membayangkan adegan itu kembali, persis seperti film komedi🤣🤣🤣
Seandainya, tujuan ikatan Angsa ini, kita tata ulang, mungkin ikatan ini akan hidup 24 jam 😉.
Ini cuma curhatan aku yg pelajaran bahasa indonesianya cuma dapet “zero”😂

Reply
avatar