Ternyata Aku Salah

Coretan hatiku malam ini...
Aku mempunya banyak teman yang bisa mengisi hari-hariku. Tapi, mengapa aku merasa sendiri saat berada di tengah-tengah mereka? Merasa tidak ada satupun yang peduli akan kehadiranku. Tidak ada yang bisa memahamiku. Mereka ada tetapi seperti tidak ada. Aku berada di tengah-tengah mereka tetapi aku merasa bahwa mereka tidak menghiraukanku, malah tidak melihatku.
Apa yang salah? Siapa yang salah? Akukah? Atau merekakah? Aku tidak bisa begini terus. Aku tidak bisa sendiri. Aku butuh teman yang bisa memahami dan mengerti aku. Aku hanya butuh beberapa orang yang bisa memahamiku. Aku tidak butuh semua, hanya beberapa saja sudah lebih dari cukup untukku. Cukup untuk mendengarkan keluh kesahku. Aku bukan tipe orang yang suka menuliskan isi hati. Tetapi, untuk malam ini aku melakukannya karena aku sudah tidak sanggup lagi untuk menahan semuanya sendiri. Aku menulis karena tidak ada lagi tempat untuk mendengar keluh kesahku yang terlalu berat ini.

Pagi seperti biasanya, aku berangkat ke sekolah. Walaupun dengan beban masalah yang belum selesai tetap kulangkahkan kaki ke sekolah. Mengikuti setiap pelajaran yang diajarkan oleh guru. Hari itu terlalu banyak yang aku pikirkan. Pikiranku melayang, mengingat tulisanku tadi malam. Mengingat tentang semua permasalahanku dan kesendirianku. Saat-saat seperti inilah aku sangat membutuhkan teman untuk mendengarkanku.
Aku memasuki kelas dengan wajah seceria mungkin. Aku melangkah masuk dan langsung menuju bangkuku. Tidak ada senyum dan tidak ada kata sapaan terucap pada siapapun orang-orang di sekitarku. Pelajaran pertama selesai. Aku berhasil mengikutinya walaupun dengan suasana hati yang benar-benar buruk. Guru pun keluar dari ruangan. Aku langsung menjatuhkan kepala pada lipatan tanganku di atas meja. Saat ini waktunya untuk istirahat. Aku tidak sanggup untuk menahannya. Aku ingin menangis. Aku keluar dari kelas menuju toilet untuk mencuci muka. Tanpa kusadari air mata mulai membasahi pipiku, menyatu dengan air.
Waktu istirahat telah berakhir. Aku masih berada di toilet untuk mengeringkan sisa air mataku. Aku terlambat masuk kelas. Ternyata guruku telah masuk lebih dulu dan akan memulai pelajaran. Aku mengetuk pintu dan masuk ke dalam kelas dengan mata yang masih sembab. Dengan kepala menunduk aku melangkahkan kakiku menuju bangku. Aku menahan agar tidak menangis lagi. Tapi aku gagal, air mataku mengalir lagi.

Satu hal yang tidak kusangka. Reaksi teman-teman sekelasku diluar dugaan. Mereka sangat mengkhawatirkan aku yang menangis. Mereka masih peduli padaku. Hal ini membuat hatiku lega. Ternyata selama ini aku yang salah. Aku menganggap mereka tidak peduli denganku. Aku yang salah. Aku terlalu egois menginginkan orang lain untuk mengerti dan memahamiku tanpa aku beritahu masalahku. Aku terlalu tertutup untuk menceritakan sedikitpun tentang apa yang kurasakan. Sekarang aku sadar bahwa aku masih memiliki teman-teman yang sangat istimewa. ANGSA. Teman seangkatanku.

Far, Deli Serdang, 2013
Previous
Next Post »