Gedung Tak Berpenghuni

Aku mengenalnya jauh sebelum aku masuk ke surga pendidikan saat itu -karena menurut kabar burung yang aku dengar, semuanya berubah. Tidak seindah dulu lagi katanya meskipun visual dari luarnya jauh lebih indah dari dulu tapi tidak mengalahkan keindahan didalamnya waktu itu- dulu dia masih kumal, hitam dan bertingkah aneh sok jagoan bak preman. Tetapi dia berubah total saat masuk SMA, bahkan menjadi kalangan populer saat itu di mata junior dan angkatanku. Masih jelas teringat saat dia mengangguku sangar saat menunaikan sholat dzuhur di hall asrama waktu itu, memakai koko berbahan kaos berwarna biru, ada corak putih disepanjang leher hingga dada -waktu itu sebutannya koko uje- dengan sarung kotak-kotak berwarna merah pucat dan ungu kebiruan tanpa peci dikepalanya memperlihatkan bentuk kepalanya karena rambutnya dipotong pendek. Aku menghiraukannya bukan karena tidak peduli tapi mukanya saat itu sangat tidak ramah sama sekali. Waktu itu aku masih umur 12 tahun, memasuki kelas 1 SMP.
Aku tidak menyangka kami disekolahkan di SMP yang sama dan memiliki hubungam yang terbilang cukup dekat dengannya, bahkan kejadian lama saat dia menggangguku sudah tidak terbenak dipikiranku lagi. Tidak jarang aku berbagi kebahagian dan kesedihanku dulu kepadanya bahkan kehidupan privasi sekalipun.
Sekarang kami disini, disekolah yang sama lagi. Di surga pendidikan. Kenapa aku menyebutnya surga pendidikan?. Bagaimana tidak, sekolah ini begitu sempurna. Hubungan guru dengan muridnya bak ibu atau bapak dengan anaknya. Bercanda tertawa bersama sudah hal lumrah bagi kami murid disekolah ini, bahkan pernah melihat tangisan gurunya seakan mencoba membagi semua kepada muridnya tanpa ada rahasia diantaranya. Guru disekolah ini juga menjadi pendengar keluh kesah kami, sarannya juga jujur sekali meskipun kadang tidak sesuai dengan keinginan hati tapi semuanya demi kebaikan kami. Bahkan, guru disini rela mencari segala macam cara untuk membuat kami paham akan yang diajarkan diluar kelas belajar mengajar. Dan kami bisa protes dengan cara mengajar guru yang kira-kira tidak kompeten dalam bidangnya tapi bukan keputusan sepihak saja, harus keputusan bersama seluruh murid sekolah ini.
Sore itu, dengan kondisi fisik tubuh yang kurang baik karena serangan virus varicella zooster memaksa kami –aku dan dia- harus diasingkan dari hunian asrama kami ke ruang khusus pengasingan digedung tak berpenghuni. Ditengah jalan Pak Ricky, guru fisika kami memanggilku dari kejauhan. Aku menghampiri beliau dan beliau membisikkan rencana mengerikan dan menyenangkan ditelingaku. Katanya sih buat membalas dendam kemuridnya karena kejadian jauh hari saat muridnya mengerjai beliau “habis-habis” an dipertambahan umurnya. Aku mengiyakan semuanya tanpa basa basi.
Waktu berlalu seperti biasa dengan aktivitas biasa, sholat makan malam belajar. Untuk makan malam kami dibawakan oleh teman kami dan untuk belajar kami terpaksa absen dulu dari keramaian, karena kami tidak boleh kemana-mana. Setelah sedikit merasa ngantuk kami akhirnya tidur dan mematikan lampu kamar kami.
Tepat jam 00.00 dia membangunkanku karena mendengar suara ketukan dari jendela. Setengah sadar aku sempat mendengarnya, awalnya ketukannya memiliki ritme yang sama antara ketukan pertama sampai ketukan ketiga. Sempat merinding mendengarnya, karena berpikir itu bukan tingkah usil. Diketukan kedua akhirnya menenangkan pikiran anehku, ritmenya tidak beraturan tapi lebih cepat seperti pemabuk yang ingin masuk rumah karena terkunci dari luar. Aku tertawa kecil dalam hati.
“Kau dengar gak suara itu?” tanyanya kepadaku sambil membangunkanku.
“Suara apa?” jawabku heran berbohong.
“Suara ketukan diluar, ada yang ketuk-ketuk lo”
“Nggak ada ah, jangan buat takut lah, aku ngantuk nih” jawabku acuh ketakutan tapi masih berbohong.
“Nggak usah tidur lagi, kita pergi aja” ajaknya sambil menarik tanganku berdiri dan memopongku berjalan menuju pintu keluar kamar.
Saat tiba dilorong gedung sebelum lobby kami melihat pemandangan yang menakutkan, kalau saja aku tidak tahu semua ini sudah direncanakan pasti aku akan sama takutnya seperti dia. Bayangkan saja, dipinggiran dinding sebelah kanan dan kiri ada pocong dan kuntilanak berkerudung. Aku tertawa kecil, dia tidak lagi memikirkan hal-hal kecil itu lagi saking takutnya mungkin. Tapi menyeramkan memang, suara kuntilaknya murni sekali. Nyaring dan ritmenya sama, cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.
“Kau lihat gak itu, ada hantu!!” menunjuknya, sedikit gemetaran saat mengucapkannya.
“Mana? Nggak usah bercandalah, Nggak ada apa-apa!” jawabku sambil mengibaskan tangan berpura-pura meraba ke arah yang ditunjuknya tapi menghindar supaya tidak mengenainya.
Tanpa berpikir panjang, dia menarikku berlari keluar. Aku hampir jatuh gara-gara gerakan tiba-tibanya, aku tidak menyangka dia bakalan menarikku juga berlari dengan ketakutan yang sudah dipikirnya semuanya asli. Hingga akhirnya kami tiba diujung pintu keluar lobby. Dan “SURPRISE” teman-teman kami semuanya muncul tiba-tiba dari tembok disamping pintu luar lobby mengagetkan bersama Pak Ricky dan Ummi Windi. Ini rencana yang sudah direncanakan beliau, mebalaskan dendamnya karena telah dikerjai habi-habisan oleh kami muridnya saat beliau berulang tahun juga.
Hari ini dia menjadi bual-bualan Pak Ricky dengan semua rencana sempurnanya. Dia berulang tahun saat itu, menjadi momen perayaan terbaik menurutku. Semua sempurna tanpa membuatnya mencurigai apapun.
Salah satu teman kami menghampirinya dengan kue yang sudah dipasangi lilin untuk ditiupnya. Malam itu berakhir dengan tawa dan wawancara singkat kepada para aktor dan aktris luar biasa. Sekarang muka sang hantu sudah bisa terlihat jelas, aku tahu orang dibalik make-up tebal itu. Sepertinya kalau yang jadi pocong cuma diberi make-up dimuka dan tanpa bepakaian udah cukup mengerikan pikirku geli, karena memikirkan orang dibalik kostum pocong itu dengan kostum tuyul pasti mengerikan. Dengan kulit hitam tapi di area muka diputihkan, sudah seperti muka melayang bayangku tertawa dalam hati.
Setelah semuanya berlalu, kami kembali ke tempat masing-masing. Tapi kami tetap di gedung tak berpenghuni ini. Masih ada yang menggoda kami dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan menyeramkan yang terjadi. Mengerikan memang jika hal tersebut terjadi dan berpikir semuanya hanya bercanda tetapi benar adanya. Tetapi karena kami berdua jadi hal tersebut tidak terlalu kupusingkan.

Sebelum tidur aku berpikir sejenak sambil tersenyum tipis. “Bagus juga ya aktingku”


ASH, Deli Serdang, 2010 
Previous
Next Post »