Waktu aku duduk di kelas sepuluh Einstein, hari senin setelah
istirahat seorang temanku duduk di sebelahku. Temanku itu laki-laki, pakai kaca
mata, kalau aku bilang sih dia mirip Aming. Kami juga satu kelompok MOS. Hari
itu entah kenapa ia duduk di sebelahku. Dan memulai pembicaraan yang menurut aku tidak penting. Selang beberapa menit dia melihat tangan dan kakiku berkeringat
sampai lantai yang bewarna putih itu menjadi jorok. Dia pun memulai aksinya,
dengan mengeluarkan doktrin-doktrin bodoh padaku. Lebih bodohnya, aku percaya
dengan semua kata-katanya yang membuatku down
dan minder.
“Tanganmu kok
basah? Terus kakimu juga? Hati-hati loh, ntar kena penyakit paru-paru basah !”
“Kan udah
periksa kesehatan dan aku dari kecil
memang udah kayak gini”
“Mungkin aja
loh, temen aku ada juga yang kayak gitu. Sebelum parah!”
“Tapi kayaknya nggak la”.
“Ya terserah
aja, tapi kalau udah parah bahaya dan bisa menular. Gak kasihan liat
teman-teman yang lain. Gara-gara you
bisa kena paru-paru basah”.
Aku hanya diam, memikirkan kata-kata temanku itu. Aku keluar kelas, tidak mau
masuk lagi, aku benci sama dia. Sampai akhirnya dia di panggil oleh kepala
sekolahku yaitu pak Fachrudin, waktu itu. Kata teman-temanku dia di marahi pak Fachrudin
dan dia menangis. Siang harinya dia tidak sekolah, kata temen-temen dia sakit. Saat
itu aku merasa bersalah, akhirnya kami tidak berbicara selama beberapa bulan
sampai pembentukan kelompok belajar. Di situ dia menjelaskan semuanya, kalau
dia hanya bercanda dan ingin menjadikan aku sebagai temannya. aku sekarang
menyadari kalau di kelas sepuluh itu aku orangnya sensitive banget, dari situ juga aku paham kalau kita hidup tidak boleh terlalu sensitive. Jangan percaya
dengan kata-kata orang yang membuat kita down,
yang membuat kita jatuh. Percaya saja
sama kenyataan yang ada seperti
aku, tanganku ini emang basah, karena keturunan dari ibu aku, yang juga kayak
gitu.
NoS, Deli Serdang, 2011
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon