Cobaan dan Mimpi

 Kadang kita berpikir kita tidak sanggup menghadapi masalah ini, tapi ketika dijalani semua terasa lebih mudah dan kita bisa menghadapinya karena setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Mimpi yang kadang tidak kita sadari telah tersimpan didalam bawah sadar dan kemudian hari akan terwujud menjadi sebuah kenyataan The Power Of Dream.
Dulu ketika aku masih SD, teman-teman sering bercerita tentang kampung halamannya di Medan. Setiap dia bercerita aku selalu membayangkan diriku yang berada di sana. Secara tidak sadar mimpi tersebut tersimpan dalam bawah sadarku. Ketika aku duduk di kelas 6 SD akhir, aku mendapat tawaran beasiswa dari tetanggaku yang bekerja di PMI. Dia mengatakan bahwasannya sekolahnya bersistem asrama dan berlokasi di Medan. Aku sangat antusias mengikuti program beasiswa tersebut. Aku mengisi formulir dan kuberikan kepada tetanggaku. Lalu informasi selanjutnya aku akan mengikuti tes agar masuk ke sekolah tersebut. Tibalah hari tes seleksi. Aku pergi bersama Ayah dan Ibu. Walaupun Ibu saat itu sedang hamil tua, beliau tetap ingin menemaniku. Tes tahap satu aku lulus dan dilanjutkan tes tahap dua selanjutnya hanya menunggu hasil tes kelulusannya. Setelah kira-kira dua bulan berlalu hasil tes keluar. Tetanggaku memberikan hasil tes seleksi, alhamdulillah aku lulus. Aku senang dan bangga dapat meringankan beban orang tuaku. Hari keberangkatan tiba. Aku beserta teman yang lulus tes  menunggu di PMI, kira-kira satu jam bus datang menjumput kami, bus tersebut tertulis RUMAH ANAK MADANI. Oh, dalam pikiranku itu nama sekolahnya.
Perpisahan pun terjadi, sebenarnya aku benci suasana seperti ini, penuh dengan tangis dan mengharu biru. Aku naik ke dalam bus, ayah mengangkat barang-barangku ke dalam bus.   Ketika bus melaju aku melambaikan tanganku. Semakin lama sosok lelaki tua yang berkulit hitam legam disengat matahari itu pun hilang dari pandanganku. Aku mulai merasa kehilangan, karena sebagian besar teman-teman yang lulus didampingi orang tua mereka, sedangkan aku sendiri tanpa dampingan orang tua.
Saat itu Ibu baru saja melahirkan adikku. Akhirnya ayahlah yang menjaga ibu. Kesedihan ku semakin larut ketika aku sampai di sana. Aku dibujuk-bujuk oleh pengurus di sana agar aku betah tinggal di tempat itu. Lambat laun aku bisa melewati hari-hari di Rumah Anak Madani. Ketika aku didik dikelas tiga SMP ada kabar bahwa akan didirikan SMA Unggulan CT Foundation. Memang sebelumnya  di Rumah Anak Madani siswa-siswinya bersekolah di luar. Awalnya aku tidak berminat, namun Abi Hendri ( pangilan untuk guru laki-laki), memberikan gambaran tentang sekolah tersebut. Aku tertarik dan belajar keras agar aku lulus di SMA tersebut. Aku mengikuti tes yang di dalamnya terdapat tes Matematika dan IPA kemudian disusul tes psikotes dan tes kesehatan. Tesnya sangat menguras otak karena dilaksanakan dua hari berturut-turut. Apalagi tes psikotesnya. Wah pokoknya capek banget. Setelah tes aku bertawakal kepada Allah agar aku diluluskan di sekolah tersebut. Alhamdulillah aku lulus. Tibalah hari yang ditunggu-tunggu, yaitu MOS (Masa Orientasi Siswa), MOS-nya sangat seru. Banyak pelajaran yang dapat diambil.
 Pembagian kelas pun dibacakan, aku masuk di kelas X Einstein. Beriring berjalannya waktu, aku pun naik ke kelas XI Algoritma dan ke kelas XII Alva. Walaupun aku belum yang terpintar diantara mereka, namun Alhamdulillah aku tidak pernah keluar dari dua puluh besar, aku tidak pernah menyerah untuk mencapai sepuluh besar dan akhirnya aku bisa mencapainya. Di sekolah ini, aku merasakan eratnya tali persaudaraan dan semakin beratnya cobaan-cobaan dan mimpi-mimpi pun semakin dekat. Cobaan terberat pun menimpaku. Ketika aku di kelas XI SMA, aku harus kehilangan Ibuku yang selalu ada ketika sedih dan senang. Saat itu Ummi Windi (pangilan untuk guru perempuan) memangil aku keruang cyber room , ketika itu perasaanku tidak enak. Pasti ada yang tidak beres nih dalam hatiku. Lalu Ummi mengabariku, bahwa Ibu sedang sakit dan sekarang dirawat di rumah sakit. Tangisku pun pecah, aku takut kehilangan ibuku. Lalu Ummi menenangkanku . Aku meminta izin pulang untuk menjenguk Ibu.  
Sesampainya di rumah sakit, aku melihat Ibu terkulai lemas di tempat tidur dan banyak sekali pipa selang di tubuhnya. Aku duduk di sampingnya, sambil menitihkan air mata. Kata Ayah sudah dua hari Ibu tidak sadarkan diri. Namun tiba-tiba ibu sadar dan mulutnya komat-kamit seperti meminta sesuatu. Dan ternyata Ibuku haus. Sebagian tubuh Ibu tidak berfungsi karena memiliki penyakit stroke. Ia susah bicara. Ia melihatku dengan linangan air mata. Aku pun ikut menagis. Kukatakan ini Ika mak. Ibuku hanya menangis melihat kedatanganku, anaknya yang jauh dari rantauan. Keesokan harinya aku pulang ke rumah untuk bersih-bersih. Dan Ayah menelepon agar aku ke rumah sakit. Aku sangat panik karena aku takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi. Pukul dua belas kurang, aku sampai di sana. Di sana aku melihat Ibu terbaring sekarat. Dokter berusaha untuk menanganinya. Aku masuk dan berada di samping Ibu. Di situ aku berjanji pada Ibu, aku akan menjadi orang sukses sesuai dengan harapan Ibu. Dokter berusaha memacu detak jantung Ibu dengan sepasang alat mirip setrika, namun hal tersebut nihil. Kulihat layar garis yang bergelombang menjadi lurus dan saat itu genangan air  mataku tumpah pecah dihantam ombak kehidupan yang sangat pahit dan jeritan hatiku pun mengadu pilu tak bisa menerima kehidupan yang tidak mungkin aku menjalani hidup tanpa Ibu. Aku menjerit “jangan tinggalkan aku mak………?”.

  Setelah kejadian itu, aku selalu terniang dengan kenangan manis bersama ibu. Bayangkan saja, Ibuku mengakhiri hidupnya tanpa aku. Aku bersekolah, hanya disaat bulan Ramadhan aku bisa bersama ibu. Saat ini aku tidak memiliki Ibu. Hanya Ayah yang sangat ku cintai. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menguji suatu kaum di luar batas kemampuan hambanya. Itulah kehidupan dan aku harus terus maju untuk menggapai cita-citaku.

SDY, Deli Serdang, 2013
Previous
Next Post »