Hari itu, kami
seluruh siswa SMA Unggulan CT Foundation berkumpul untuk
mendengar pengumuman dari guru. Sebelumnya, aku sudah mendengar topik
pengumuman yang akan di sampaikan oleh guru. Klinik dan UGD.
Kelas ini dibuat untuk mengobati siswa-siswi yang sakit. Sakit mengikuti
pelajaran. Pengobatan dilakukan dengan adanya kelas tambahan sore dan malam.
Aku tidak
terlalu memikirkan Klinik dan UGD.
Sebelum berkumpul, aku sudah melihat nilai-nilaiku. Walaupun tidak terlalu baik
tetapi buruk juga tidak. Masih ada teman yang nilainya berada di bawah. Aku
berpikir bahwa aku masih aman dan paling tidak aku hanya masuk klinik.
Tapi pikiranku
melesat. Namaku disebut dalam kelompok UGD.
Bukan klinik tapi langsung UGD. Aku hanya diam. Aku berharap aku salah
mendengar atau guru salah menyebutkan nama. Tapi, sampai selesai pembacaan
kelompok UGD dan klinik namaku tetap dan tidak
ada perbaikan atau ralatan.
Pembacaan siswa
yang masuk UGD dan klinik selesai dan bagi siswa yang namanya disebut berkumpul
kembali. Aku masih diam dan tak tahu
harus berbuat apa. Aku tak bisa mendengarkan peraturan dan jadwal yang
diterangkan oleh guru. Perkumpulan selesai dan kami kembali ke asrama
masing-masing.
Aku langsung
menangis di kamar. Aku takut keluar dari CTF. Aku tak mau jadi pengikut
teman-temanku yang telah lebih dulu keluar dari CTF. Aku benar-benar takut saat
itu. Aku memperhatikan teman-temnaku yang telah keluar dari CTF. Mereka
berusaha bangkit dan keluar dari kelas klinik dan supervisor. Nilai mereka naik
tapi bukan keluar dari klinik malah langsung keluar dari CTF. Aku tidan berani
membayangkannya.
Aku tetap
mngukuti kelas UGD. Tanpa semangat malah cenderung
malas. Nilai-nilaiku bukan malah membaik
tetapi makin buruk. Aku sudah pasrah jika harus keluar dari CTF semester itu.
Semangatku mulai
bangkit kembali saat mendengar salah satu Abi memjatuhkan kami penghuni UGD.
Kami benar-benar dipandang sebelah mata. Diremehkan. Dianggap
tidak bisa melakukan apapun. Setelah mendengar ucapan abi aku sakit hati dan
ingin balas dendam dengan menunjukkan ke abi kalau aku BISA. Aku BISA keluar
dari UGD.
Aku benar-benar
memanfaatkan kelas UGD. Aku berjanji untuk bangkit dan keluar dari kelas UGD.
Aku bukan anak penyakitan. Aku terus berusaha untuk semangat. Aku belajar sore
dan malam dengan guru piket. Aku baru sadar, ternyata
bertatapan langsung dengan guru itu menyenangkan.
Semua pelajaran lebih mudah dimengerti dan terkadang diselingi dengan curhat.
Semua hasil
usaha dan janji kubuktikkan di mid semester
itu. Nilaiku benar-benar naik drastis. Aku hampir
tidak percaya dengan nilai yang tertera
di kertas ujianku yang di bagikan. Dan hasilnya, aku keluar dari UGD. Tidak
hanya aku, teman-temanku yang lain juga keluar dari UGD. Bagiku masuk dalam
urutan the best teen nilai MIPA di
CTF adalah bonus.
Aku sangat
bersyukur keluar dari UGD. Aku juga tidak
perlu takut lagi karena aku tidak akan keluar dari CTF. Aku baru sadar bahwa
setiap usaha itu tidak ada yang sia-sia.
DCT, Deli Serdang, 2012
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon