Nilai
kehidupan, tidak kusadari telah mengisi pundi-pundi perjalananku di SMA
Unggulan CT Foundation ini. Begitu banyak kisah yang mengandung pelajaran
berharga telah terjadi di SMA CTF ini. kurasa untuk itu kupersembahkan inilah ceritaku. Tapi sebelumnya, terima
kasih kepada teman-teman yang telah mengingatkan dan menasehatiku terus tanpa
lelah.
Nah,
kisah ini berawal dari proses KBM (kegiatan belajar mengajar) tepatnya untuk
pelajaran bahasa inggris. Tentunya proses tersebut selalu diiringi dengan
pertanyaan-pertanyaan baik dari murid maupun guru, yang bertujuan meningkatkan
daya pikir, analis dan pengetahuan kita
tentang suatu hal. Saat itu, pak Nasihin bertanya “Any one of you can explain
this?” Sambil menunjuk jarinya ke papan tulis. Setelah menunggu temanku
yang mungkin saat itu sedang tidak mood untuk menjawab, akhirnya aku
memberanikan diri untuk berbicara.
“Me
sir”, kataku.
In my opinion, I conclude that bla...bla....lanjutku dengan menggunakan pronounciation
bahasa inggris yang di anggap lebay oleh teman-temanku. Tidak sedikit dari
mereka yang mengejekku dan menirukan gayaku saat berbicara bahasa inggris.
Misalnya Isan selalu mengikuti gaya gayaku. Isan selalu mengatakan “That..
that” dengan lidah sudah hampir melayang.
Bell
berbunyi itu menandakan istirahat makan siang dan shalat Dzuhur. Seluruh siswa
meninggalkan kelas sambil menyalami pak Nasihin yang sudah berdiri di depan
pintu. Tiba-tiba beliau bertanya “How was your competition in Jakarta,
Fadhli?” saat itu English day (hari wajib berbahasa inggris). “It was very
fantastic, and I thing that bla..bla...”.
aku tidak tahu bahwa ada temanku yang tidak suka denganku. Ketika aku
berbicara bahasa inggris. Suatu hari salah seorang teman berkata padaku ”Fadli
yu kok ngomong bahasa inggris biasa aja napa lebay tau, aku nggak suka tau". “
What do you mean? I dont und.. ”, temanku tiba-tiba memotong. “Ya baru
dibilangin dah buat lagi. Sebenarnya kalau yu itu ngomongnya gak lebay temen-temen nggak ada masalah, Tapi
pengucapanmu itu udah ngelebihi orang Inggris asli, yu kira bagus kali?”. Dia
ngomong dengan nada tinggi dan sinis. Aku merasa terhina dan tersiksa. Hatiku
terasa sakit dan panas pada saat itu. Rasanya ingin ku balas perkataannya
dengan makian. Tetapi aku coba menenangkan diri dan mencoba sabar. Dan aku
melontarkan kata dari mulutku sambil tersenyum. "You
aneh, aku lakuin itu agar aku terbiasa dengan bahasa, logatnya itukan sulit
kalau nggak sekarang kapan lagi?” Temanku membalasnya ”Yeeee, alasan aja”.
Sambil berjalan meninggalkanku . Setelah kejadian itu aku merasa sedikit
kesal. Tapi aku tetap tanamkan dalam diriku bahwa setiap orang punya cara
masing-masing untuk mencapai keberhasilan.
Jadi,
aku yakinkan diri bahwa apa yang selama ini kulakukan untuk meningkatkan bahasa Inggris tidak salah. Bahkan sebaliknya karena itulah aku bisa lebih baik
dari beberapa teman. Aku berjanji pada
diriku untuk tetap seperti yang dulu. Walaupun aku tahu orang banyak yang
berkomentar. Yang pasti saat mereka berkomentar aku tidak boleh membenci dan
memusuhinya. Tapi justru sebaliknya seiring berjalannya waktu ternyata dugaanku
selama ini benar. Komentar-komentar yang kuteriam semakin sedikit dan menerima
keadaanku dalam bahasa Inggris. Pepatah mengatakan orang yang terus menerus berkomentar
akan merasakan kejenuhan, kebosanan dan akhirnya secara tidak sadar telah
menyerah untuk memberikan komentar yang sama dari hari kehari. Jadi lakukanlah
yang menurutmu benar, dan jangan mudah terpengaruh dengan perkataan orang lain
saat kamu melakukan sesuatu hal yang benar.
ZFd, Deli Serdang, 2012
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon