Fighting Spirit

Hari itu, aku lupa tanggal dan hari yang tepat tapi waktu itu, Agustus 2010, semester awal di masa SMAku di SMA Unggulan CT Foundation, kami kelas X Einstein memulai pelajaran dengan kehadiran bu Suryani selaku guru matematika dengan membawa setumpuk soal yang akan kami kerjakan sebagai soal pengantar. Soal tersebut tidak seperti soal biasanya melainkan soal yang tingkat kesulitannya jauh dari yang biasanya. Yang kami tahu akhirnya itu adalah soal istimewa dari Surya Institute. Dan waktu mengerjakannya juga tidak seperti biasanya, dalam mengerjakan soal ini kami tidak diberi batas waktu. Dan mereka yang bisa mengerjakan setiap soal akan mendapat bintang dari bu Suryani.
Selepas kelas, kami berlomba-lomba untuk mengerjakan kesepuluh soal tersebut. Tak terkecuali aku. Waktu yang biasanya kugunakan untuk hal yang tidak perlu seperti tidur dan bersantai-santai kini kualihkan untuk mengerjakan soal tersebut. Namun semakin soal itu kutelusuri prosesnya maka aku juga merasa semakin kesulitan mengerjakannya. Hal itu membuatku jadi jenuh, sehingga hari-hari berikutnya keinginanku untuk mendapatkan bintang dari bu Suryani pun semakin berkurang. Akhirnya akupun menyerah.
Beberapa hari berikutnya setelah aku nyaris melupakan soal yang sepuluh tersebut tiba-tiba saja mading sekolah diramaikan oleh seorang siswi yang mendapatkan bintang dari bu Suryani karena berhasil memecahkan salah satu dari sepuluh soal tersebut. Dia Yulis Dwiantri. Siswi dari X Mendel. Berita tersebut membakar semangatku untuk melahap Sembilan soal tersisa.
Sore itu dengan semangat juang yang tinggi aku kembali berkutat dengan Sembilan soal yang pernah mematahkan semangatku. Bahkan saking semangatnya waktu sebelum Maghrib yang biasanya diisi dengan mengaji aku sempatkan untuk mengerjakan soal sulit tersebut. Dan akhirnya sesaat sebelum adzan maghrib berkumandang satu soal selesai kutuntaskan. Akibatnya saat sholatpun aku  hanya membayangkan mendapat bintang kedua dari bu Suryani. Hal yang seharusnya tidak dilakukan setiap manusia memang saat menghadap Tuhannya.

Karena sudah mengerjakan satu soal akupun kembali bersemangat mengerjakan delapan soal yang tersisa. Hingga akhirnya sampai tengah malampun aku masih berkutat dengan soal tersebut. Dan dengan kebahagiaan yang luar biasa akupun terlelap lebih lelap dari biasanya setelah tiga soal lagi kutuntaskan.

SyR, Deli Serdang, 2010
Previous
Next Post »