Aku sudah mengenalnya sejak enam
tahun lalu. Tetapi, hanya sekedar tahu nama. Marsha, yang ku tahu hanya sebatas
itu. Selama lima tahun kami hanya bicara jika perlu, tidak pernah sekalipun ada
perbincangan diantara kami.
1 Mei 2012, terjadi perpindahan
asrama. Aku dan Marsha satu kamar. Inilah awal mula aku mengenalnya lebih jauh.
Awalnya, kami belum banyak ngobrol, hanya seperlunya. Sampai pada acara Pentas
Seni Rumah Anak Madani.
Aku tampil menyanyi diiringi piano
oleh salah satu temanku, namanya Zul. Zul adalah teman kami yang multitalenta. Ia bisa bermain bermacam-macam alat
musik, salah satunya piano. Suatu malam teman sekamarku yaitu Mei, bilang kalau
Marsha suka pada Zul. Aku yang senang mengusili orang ini menyambut gembira
berita ini. Aku mulai mengusili Marsha, bilang pada Zul kalau ia kirim salam,
dan banyak lagi keusilan lain yang membuatnya jengah dan tersipu. Padahal
sebenarnya ia tidak suka pada Zul, tapi bodo amat! yang penting hobiku
tersalurkan.
Setiap hari aku mengusili Marsha,
dari pagi hingga pagi lagi. Pokoknya tiada hari tanpa mengusilinya. Pulang
sekolah, setelah mandi, bahkan bangun tidurpun aku tak
melewatkan untuk mengusilinya. Marsha hanya mampu menanggapi dengan senyum
malu-malunya. Semakin membuatku semangat untuk mengusilinya.
Di kamar kami selalu menjadi biang
keributan. Teriak sana, teriak sini, saling pukul, dan saling usil menghiasi
hari kami. Sampai-sampai teman sekamar yang lain merasa terganggu dan sering
memarahi kami. Tapi protes meraka hanya mampu membendung kami sejenak.
Banyak hal manis yang kami lalui
bersama, yang bagiku sangat berarti meski mungkin baginya tak berarti
apa-apa. Kami sering jajan bersama di kantin, mambeli es lilin. Setelah membeli es lilin, kami duduk di kursi dapur sambil
berlomba menyembur batu es sejauh-jauhnya sambil tertawa-tawa. Yah, mubazir
memang, tapi sangat menyenangkan.
Pada acara Cross Country, kebetulan kami menempati pos yang sama. Setelah
menjaga pos, kami bermain sebentar ke pos lain, kemudian langsung pulang.
Bukannya membantu yang lain, kami malah kompak tidur di kelas XII Alva sampai acara berakhir. Ketika kami bangun, acara telah selesai, kami segera
kembali ke asrama, dan ternyata, sandal Marsha hilang. Sebagai teman yang baik
(ehm) aku meminjamkan sebelah sandalku untuknya. Jadilah kami memakai sandal
sebelah-sebelah seperti orang gila.
Marsha dan aku juga terkadang
ngobrol tentang berbagai hal. Ia bercerita tentang Abang tersayangnya yang
telah meninggal, tentang masa kecilnya, dan tentang sekolah SDnya yang
menurutnya lebih tragis dari SD Muhammadiyah dalam film laskar pelangi. Tapi
menurutku luar biasa karena ternyata sekolah tragis seperti SD Muhammadiyah
laskar pelangi benar-benar ada! bukan hanya dalam film saja, dan Marsha adalah
salah satu alumninya. Salut..! Sementara aku hanya bercerita tentang cinta
pertamaku, dan masa kecilku yang datar-datar saja. Di sela-sela acara cerita
kami, terkadang terjadi ‘peperangan’ yang menimbulkan keributan dan mengundang
protes teman lain yang sedang tidur. Ada banyak hal-hal konyol, dan terkadang
mengharukan yang kami lalui bersama.
Tetapi hari-hari manis itu berakhir
hanya karena hal sepele. Tiba-tiba saja kami saling mendiamkan, tanpa sebab
yang pasti. Teman-teman lain awalnya tidak menyadari hubungan kami yang
merenggang. Tetapi lama-kelamaan mereka merasa ada yang aneh, kenapa kamar
menjadi lebih tenang dan senyap? Mereka bertanya-tanya ada apa antara aku dan
Marsha. Yang kami jawab kompak dengan berkata, ” Enggak tau!” lalu mereka menyuruh
kami berbaikan. Sejujurnya aku juga tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.
Namun gengsi yang besar menahanku untuk meminta maaf. Sampai hari ketiga, aku
tidak tahan terus-terusan berdiam-diaman seperti ini. Lagi pula kan kita tidak
boleh mendiamkan orang sampai lebih dari tiga hari. Dengan alasan ini aku
mengalah dan minta maaf duluan padanya. Tetapi Marsha malah mengacuhkanku. Aku
sakit hati, tapi berusaha untuk menutupinya.
Malam sebelum Ujian Nasional
akhirnya Marsha minta maaf padaku. Kami berbaikan. Tapi hari-hari selanjutnya
tidak pernah sama lagi dengan yang dulu. Kami hanya bicara jika perlu, tidak
pernah bercanda lagi, apalagi saling pukul, dan itu semua karena gengsi yang
besar membentengi kami.
Dari kisah ini aku belajar tentang
banyak hal. Bahwa dalam pertemanan, tidak mungkin akan selalu berjalan lancar.
Akan ada masalah-masalah kecil maupun besar yang datang. Semakin sering kita
berinteraksi, semakin besar kemungkinan munculnya masalah. Intinya kita tidak
mungkin mampu untuk selalu menghindar dari masalah tersebut. Ketika masalah
muncul, yang perlu kita lakukan adalah, membuang gengsi jauh-jauh
dan saling memaafkan. Tidak perlu malu untuk memulai, dan tidak perlu merasa
kalah ketika harus meminta maaf terlebih dahulu. Bukankah meminta maaf itu
lebih mulia? Lagi pula dengan meminta maaf tidak akan memperlarut-larut
masalah. Jadi, mulai sekarang, say no to
gengsi!!!
IJS, Deli Serdang, 2013
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon