Tangis Mereka, Membakarku

“Optimislah, karena sesungguhnya Allah bersamamu, memohonkan ampunan untukmu, dan      surga telah menunggumu.”
Hari itu tanggal 7 Juli 2012, kegiatan yang terjadwal di sekolah yaitu yudisium. Yudisium dilaksanakan setiap akhir semester, bertujuan untuk melihat perkembangan nilai akademik siswa.
Dua hari sebelum yudisium usiaku genap tujuh belas tahun. Kebanyakan orang menyebutnya dengan sweet seventeen. Ah, waktu begitu singkat. Ternyata aku sudah dewasa, begitulah hati berbisik. Sebelum melangkahkan kaki ke sekolah, sempat kutorehkan sebuah kalimat di buku harianku dalam bentuk bahasa arab yang artinya, “perbaharui niat, yakin akan dirimu”. Kalimat yang akan terus memotivasiku, saat acara yudisium berlangsung.
Detik-detik  pemanggilan siswa untuk masuk ke dalam ruang yudisium. Satu per satu dari kami dipanggil, sesekali aku merinding, sesekali aku dingin. Dari lima puluh satu siswa, yang tersisa hanya tujuh orang termasuk diriku, “Ya Allah…” ungkapan pasrah mulai terlontar dari bibirku dengan pelan. Kebetulan hari itu aku membawa buku. Jadi, menunggu panggilan berikutnya dan berusaha untuk menghibur sekaligus menenangkan diri dan yang kulakukan hanya membaca buku. Namun, sepertinya buku yang kubaca tak tertangkap oleh memoriku, tidak bisa dicerna, aku benar-benar resah hari itu, khawatir tingkat tinggi. “Ya Allah…berikan yang terbaik, sehingga ini menjadi kado terindah di ulang tahunku yang ketujuh belas”, sepintas doa kupanjatkan seketika dan kupilih untuk terus bertasbih daripada membaca buku. Aku begitu gelisah, kenapa namaku belum dipanggil. Atau jangan-jangan nilaiku hancur, jelek, atau apa. Semua pertanyaan itu tak bisa kujawab. “Ya Allah, urusan ini kuserahkan pada-Mu, bantu akuYa Allah, tenangkan jiwakuYa Allah”. Tak henti-hentinya hatiku berbisik.
Akhirnya, aku dan keenam temanku dipanggil. Bismillah, tampak beberapa guru telah menunggu di depan ruang yudisium. Deg deg deg, detakkan yang begitu hebat terpatri dijantungku. “Ya Allah...apakah benar firasat ini”. Aku mengepal tangan sekuat mungkin, menetralkan  aturan napas yang sudah berhambur tak menentu. Tepat di depan pintu, seorang guru langsung  merangkulku, “Imah kuat ya”, ucapan yang mencabik habis jiwaku, meluluh lantakkan harapanku. “Ya Allah, apakah peristiwa ini terbaik untukku? Apakah aku harus meninggalkan sekolah ini? Apa aku sudah tidak layak untuk bersekolah di sini? Dalam pelukan itu, aku masih saja menahan tangisku. Jika tidak kutahan, mungkin aku akan meraung hebat.  Aku tidak boleh loyo, aku harus kuat.
Beberapa menit kemudian, aku dan keenam lainnya masuk ke ruangan. Kami dipersilahkan duduk sesuai dengan posisinya. Tampak beberapa dari kami telah meneteskan airmata, termasuk aku. Namun, aku sempat heran. Seingatku sebelum masuk ruang yudisium, kami diberikan sebuah surat yang didalamnya terdapat keputusan dari sekolah tentang perkembangan kami. Tapi, hari itu tidak. Entahlah, kami hanya mengikuti alurnya saja, selanjutnya terserah para guru akan membawa kami ke mana. Satu per satu guru mulai memberi arahannya, di mulai dari kepala sekolah. Terkadang dengan nada lembut dan tak jarang beliau membentak kami, bentakan karena amarahnya atau bentakan sayangnya pada kami, aku juga tidak mengerti yang kutangkap hanyalah sebuah bentakan penuh kekecewaan pada kami, selanjutnya diserahakan pada wakil kepala sekolah. Aku melihat binar mata yang sama halnya pada kepala sekolah tadi. Beliau begitu memedam rasa kecewa dengan kami. Satu demi satu beliau merangkai kalimat yang akan diutarakan untuk kami, sangat jelas ungkapan itu menandakan bahwa kami sudah tidak layak bersekolah di sini lagi. Namun, belum ada keputusan. Dengan kepala tertunduk aku menangis tersedu-sedu. Arahan dilanjutkan oleh seorang guru agama. Beliau memulainya dengan bercerita tentang sebuah kapal dan rombongannya. Ungkapan yang sangat melekat di memoriku sampai saat ini, ketika guru itu melebel kami dengan sebutan kerikil-kerikil kecil tak berguna. Kerikil yang hanya menghambat perjalanan kapal beserta rombongannya nanti, menghambat cita-cita anak bangsa yang ingin berlabuh ke samudera dunia. Sakit sekali rasanya hatiku saat itu, di satu sisi aku memang pantas mendapatkannya. Tapi aku tak bisa terima begitu saja. Aku yakin setiap anak diciptakan pasti mempunyai kelebihan tersendiri, termasuk aku. Tanpa ada keputusan, para guru sudah merangkul kami, beberapa orang temanku ada yang muntah, ada yang lemas tak berdaya. Begitu pula denganku. Rasanya semua harapan telah sirna dimakan waktu, aku nangis mengharu biru dalam pelukan seorang guru.
Terdengar dari luar, suara tangisan teman-temanku. Suara itu mengamuk, meminta pada semua guru untuk lebih dipertimbangkan lagi, tapi sebenarnya belum ada keputusan. Saat aku keluar dari ruangan itu dan masih dalam tangis yang merajalela, aku benar-benar menyaksikan mereka. Menyaksikan tangisan mereka, tangisan histeris mereka, menyaksikan panggilan mereka, menyaksikan amarah mereka. Menyaksikan jeritan mereka demi mempertahankan kami agar tetap bersekolah di sini. Sebegitu sayangkah mereka pada kami yang riwayat hidupnya tinggal menghitung detik berdentang? Kulihat lagi mereka dengan mata yang tak kalah hebat bengkaknya, dengan mulut yang terus memanggil nama kami satu per satu bahkan mereka tak segan duduk lesehan di depan pintu kepala sekolah dalam keadaan lemas. Aku tak boleh mundur begitu saja, aku harus optimis bahwa aku mampu untuk melanjutkan pelajaran di sekolah ini, aku pasti bisa.
Kepala sekolah memanggil kami kembali, agar masuk ke ruangannya. Di ruangan itulah aku dan keenam lainnya diberikan sebuah surat yang belum sempat kami terima di awal pertemuan.  Alhamdulillah, Allah masih mendengar do’aku, Allah masih sangat sayang denganku, Allah masih memberiku kesempatan lagi. Kesempatan untuk tetap dan terus melanjutkan sekolah di sini. Surat itu bertuliskan,“Naik Kelas Bersyarat”. Tangisku mulai reda, aku mulai bisa mengontrol emosiku, mengontrol jiwa ragaku walau masih lemas tak percaya.
Usai pembagian surat keputusan, Aku dan keenam lainnya disuruh berdiri, menjawab pertanyaan yang akan diajukan untuk kami secara personal. Sambil tersedu-sedu aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, ada seorang teman ragu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kedirinya. Seketika kepala sekolah marah besar, lalu menantang kami untuk membawa keempat puluh empat teman kami yang di luar ke dalam ruangan. Masuklah satu per satu dari mereka. Pertanyaan itu diulang kembali untuk kami dihadapan semuanya, lima puluh satu siswa beserta para guru. Namaku dipanggil, dengan tangkas aku langsung berdiri, sejenak aku terdiam kemudian aku meneriakkan sebuah kalimat.
“CTF itu kejam”. Aku terdiam lagi. “dengan kekejamnya aku akan belajar, aku yakin tidak ada anak yang tidak mempunyai keistimewaan dan aku yakin aku pasti bisa meraih nilai yang lebih baik lagi, aku yakin bisa mengikuti program di sekolah ini”, begitulah ungkapan kusambil menangis lalu terduduk. Setelah pertanyaan-pertanyaan itu selesai, wakil kepala sekolah mulai mengangkat bicara kembali. Ungkapan penuh cinta dan amarahnya untuk kami terlontar seketika “Jika kalian gagal maka, Abi adalah orang pertama yang akan mengundurkan diri (Abi adalah panggilan untuk seorang wali asrama) lalu, pergi meninggalkan kami dan guru lainnya”.

Ucapan terakhir itu semakin membakar semangatku untuk terus maju ke medan perang, Berjuang mempertahankan citra sekolahku. Mengharumkan nama baik pendiri sekolahku. Sesungguhnya tidak ada usaha yang tidak mendatangkan hasil. Aku yakin aku pasti bisa.

SRoh, Deli Serdang, 2012
Previous
Next Post »