Aku
dan Mia berteman baik sejak kelas sepuluh. Saat kami memulai masa sekolah
menengah atas, kehidupan yang baru membutuhkan penyesuaian yang besar, kami
selalu siap berbagi. Aku merasa aman karena bisa menceritakan semuanya pada Mia
dan selalu mempercayainya. Kelas sepuluh berlalu kami berdua memiliki teman
dekat baru. Leput dan Sam.
Berkumpul
bersama mereka adalah hal yang terindah dan paling menyenangkan bagiku. Kelas
sebelas berlalu dan tak lama kemudian kami menjalani kelas dua belas. Pada
tahun itulah keadaan diantara kami perlahan berubah. Tapi, aku masih bersahabat
dengan Mia. Namun, masing-masing dari kami telah memiliki teman dekat lainnya.
Begitu juga aku yang mulai dekat dengan teman belajarku. Aku tak sadar sudah
bersikap acuh pada Mia. Tidak sadar bahwa kami semakin menjauh.
Suatu
hari, aku membaca tulisan Mia di binderku. Satu kalimat yang membuat aku
bingung, tak mengerti apa maksudnya. “Tak ada kejadian yang sangat menyayat
hati, kecuali kau membuangku seperti sampah”. Jika yang dimaksud bahwa aku
telah membuangnya. Itu salah besar. Aku tak pernah merasa membuangnya. Aku
selalu berpikir betapa pentingnya persahabatanku dengan Mia.
Mia
bisa mengerti aku ketika yang lain tidak bisa. Mia mempercayaiku dan mendengar
apa yang kukatakan tanpa menilai entah itu sesuatu yang ingin ia dengar atau
tidak. Saat ulang tahunku yang ke-18. Malam itu, aku, Mia, Sam dan Leput,
mengobrol santai di kelas, membicarakan berbagai hal. “Jujur aja, aku rasa kita
semakin jauh, terutama sama Abel. Aku merasa jealous kalau dia deket sama orang lain, tapi sama aku jauh.
Walaupun yang deket sama Abel juga orang yang deket sama aku”, kata Mia. Mia
merasa jealous. Tapi, ia tidak
menyadari bahwa aku juga merasakan hal yang sama. Namun, aku tak mengatakannya.
Saat itu, aku berusaha untuk memperbaiki persahabatanku dengan Mia.
Waktu
terus berlalu, kelihatannya tidak ada yang berubah. Malah semakin menjauh. Mia
semakin dekat dengan orang lain. Terpikir olehku, apa yang dikatakan Mia
semuanya bohong. Yah, kebiasaan burukku, cepat berpikir negatif dan selalu
menyimpulkan segala sesuatu, berdasarkan opini sendiri, tanpa melakukan
klarifikasi. Perkiraan bahwa kami bisa bersahabat seperti dulu perlahan
memudar, setelah terjadi konflik kesalahpahaman antara kami.
Saat
kami sedang berlatih untuk yudisium, aku sangat kesal dengan Mia yang pindah
barisan. Kebiasaan burukku terjadi lagi. Aku berpikir, bahwa Mia pindah karena
ingin dekat dengan orang lain ketimbang dekat denganku. Aku diam, tidak mau
merespon sapaan Mia, Aku kesal. Leput bertanya kepadaku tentang masalah itu.
Aku menceritakan unek-unekku padanya. Dia memberikan solusi kepadaku untuk
menyelesaikan permasalahan ini dengan berbicara langung dengan Mia. Tapi aku
lebih memilih untuk menulis surat. Saat aku sedang berbicara dengan Leput. Aku
melihat Mia bercanda ria dengan teman lain. Aku mulai dikuasai lagi dengan
kebiasaan burukku, berpikir negatif. Malam itu dengan perasaan kesal, aku
menulis surat untuk Mia. Aku tidak membaca dan memeriksa kembali apa yang telah
kutulis. Surat itu langsung kukirim ke Mia melalui Leput.
Setelah
dua hari tidak ada balasan surat, tidak ada respon. Aku kembali kecewa dan
bergumam. “Persahabatan kami mungkin telah selesai”. Empat hari setelah aku
memberikan surat itu, saat aku sedang mengerjakan tugas, Sam menghampiriku, sama
halnya dengan dengan Leput, dia menanyakan masalah itu. Dia menceritakan semua apa
yang telah diceritakan Mia padanya juga tentang surat itu. “Dia gak nyangka kau
bisa berpikir seperti itu Bel, baca kata-katamu Bel, katanya kau merasa kalau
kau dimanfaatin sama dia ya, dia kelihatan sedih gitu”, ungkap Sam. Sejenak aku
terdiam, aku baru sadar ternyata surat itu begitu kasar, aku menyesal tidak
membacanya lagi. Ternyata apa yang aku pikirkan dan simpulkan berdasarkan opini
itu salah, Mia tidak sejahat itu. Pantas, Mia tidak membalas suratku. Aku tidak
tahu harus bagaimana. Aku hanya berharap persahabatan kami bisa seperti dulu
lagi. Sekarang aku kehilangan sahabat dari hatiku, semua telah berubah. Aku
menyesali kebiasaan buruk itu, seandainya semua bisa kutarik kembali, ingin
sekali mengubahnya, memperbaiki sisi keburukan itu. Namun, semua telah
terlambat.
Banyak
sikap dan sifat yang harus kita miliki sebelum menjalani persahabatan. Persahabatan
itu harus “take and give” bukan “take or give”. Ibarat logika
matematika, pernyataan “take and give”,
akan bernilai benar jika keduanya dilakukan.
“Saat kita
tumbuh dewasa, semuanya tentu berubah. Tapi, tak selalu harus berakhir.
Meskipun keadaan kini berbeda, kau akan selalu menjadi sahabatku”.
ABS, Medan, 2013
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon