Jujur Aku Menyayangimu Lebih Dari Yang Kau Tahu

 “Teman sejati adalah ia yang meraih tangan anda dan menyentuh hati anda”
Heather pryor

Base class time (BCT)
Saat dilaksanakannya rutinitas mingguan ini, aku hanya duduk diam, tenggelam dalam hiruk piruk suara yang saling berlomba menyampaikan unek-unek kepada guru pembimbing. Masalah demi masalah dicari dan diberi jalan keluarnya. Kulihat teman-temanku puas atas jawaban guruku, dengan lancar mereka melontarkan cerita demi cerita tanpa sisa. Meski semua wajah ku kenal, saat ini aku merasa tak mengenal siapa pun. Aku tak pernah merasa sendirian seperti ini. Terkadang aku iri dengan mereka yang bisa akrab dan mudah berbicara empat mata dengan guru mengenai masalah pribadinya masing-masing, tapi kenapa aku tidak bisa?
Ada juga guru bimbingan konseling yang lembut kelihatannya sangat enak di ajak berbicara. Tapi itu sulit bagiku untuk dekat dan bercerita dengannya Aku merupakan anak yang memiliki sifat tertutup, dan  terlalu memainkan perasaan. Begitu rapuh diri ini bagai lapisan tipis air yang membeku. Sebenarnya banyak hal yang kutahan dan kututupi dalam diriku. Dari hal kecil hingga besar. Terkadang aku mencoba mengajak berbicara, berusaha untuk tidak terlalu tertutup. Ya bermula menceritakan betapa sayangnya ibuku kepada nenek yang telah ditinggal pergi, sampai-sampai ibu meminta izin kepada ayah untuk menjaga nenek yang sedang sakit. Hingga aku merasakan sakitnya ditinggalkan oleh nenek yang dirasakan ibu. Aku tak tahan. Aku selalu ingin meneteskan air mata, aku meneteskan air mata bukan hanya karena ditinggal oleh nenek tapi ditinggalkan oleh seorang ibu yang sangat kita sayangi.
Sore itu di BCT
“Hayun, kenapa? sepertinya sedang sedih, mana tahu ibu bisa bantu” guruku memulai percakapan.   “Ndak ada bu ?” jawabku singkat.  Sambil berpikir, sepertinya tidak ada salahnya kalau aku menyampaikan sesuatu yang bisa aku sampaikan, akhirnya kata demi kata aku memulainya. Setelah aku menyampaikan kata-kataku aku tidak merasakan kepuasan tersendiri. Respon yang diberikan tidak mengena di hati, tidak hanya itu, melainkan unek-unek yang lain juga. Aku mencoba menceritakan kepada pembimbing yang lain untuk mencari jalan keluar mengenai masalahku. Alhasil nihil, belum pas. Oh mungkin mengungkapkan curhatan kata-kata saat kita sudah dekat kali ya.  Jujur saja belum ada satu guru pun yang dekat denganku. Semua guru biasa saja dengan keberadaanku, karena aku bukan harus bermanja-manja, bercanda berlebihan didepan guru. Namun aku tetap menghormatinya, menyayanginya.
Suatu hari temanku berkata “Kalau sedih jangan diam, dan jangan sungkan untuk cerita mengenai masalah you, anggap saja teman bisa memberikan solusi dan menjaga cerita. Jangan pernah mersasa sulit untuk mencari teman yang baik, bisa menjaga perasaan mengetahui dan mengerti  keadaan you. Karena setiap manusia mustahil selalu benar atau selalu salah”, ketika kalimat itu terucap, aku merasa sangat bersalah. Kenapa aku harus sulit mencari guru yang nyaman untuk berbagi dan berdiskusi?  Ternyata, teman-temanku selalu ada disampingku. Mengerti keadaanku. Aku juga siswa, sama seperti yang teman yang lain. Aku mulai sadar kenapa aku tidak pernah mendapat kenyamanan dalam bercerita, dikarenakan  tidak ada timbal balik dalam bercerita.  Ya mana mungkin guruku menceritakan masalah pribadi kepadaku atau masalah rumah tangganya. Beda suasana. Sedangkan mereka, teman-temanku senantiasa selalu terbuka denganku begitu juga aku pada mereka.
Seluruh elemen yang ada di CTF telah membangun karakter dan jiwaku, aku menyadari tidak ada manusia yang sempurna seperti apa yang kita inginkan. Guru... mungkin ini keegoisanku. Maafkan aku atas segala pemikiran tak jelas tentangmu mengenai BCT tadi. Namun, asal engkau tahu, selama 12 tahun aku bersekolah, 12 tahun aku bertemu dengan berbagai jenis dan karakter guru. Guru-guru di CTFlah yang paling hebat. Guru yang membuat aku bangga akan kalian. Guru yang totalitas. Aku mengerti, kalian ada disini untuk mengajar. Mungkin, ada sebagian guru yang kaku untuk mendengarkan dan meminta respon. Aku mengerti dirimu, aku mengerti keadaanmu, yang pasti kalian adalah guru-guru terhebatku.

Temanku..... adik-adik kelas, terutama Angsa. Kalian juga merupakan teman-teman yang sangat berarti dalam hidupku. Aku tahu, mungkin aku tidak terlalu dekat dengan kalian. Ada yang sebatas kenal nama, ada sebatas tegur dan sapa, ada sebatas pertemuan guru dan siswa dikelas saja. Mungkin memang ada yang benar-benar dekat denganku, tapi kalian akan selalu ada dalam ingatanku, keseharian yang kita lewati bersama. Sungguh tak akan kulupa, teman spesial dalam hidupku. Karena aku benar-benar menyayangi kalian. Seluruh guruku, teman-temanku, best friend, dan teman dekatku. Aku menyayangi kalian. Mungkin aku tak bisa menunjukan rasaku. Tapi doaku selalu menyertai kalian. Untuk kenikmatan dan keselamatan kalian semua di dunia dan akhirat.

Hay, Deli Serdang, 2012
Previous
Next Post »