Palsu

Ingin rasanya aku berteriak detik itu juga ketika aku mendengar setiap kata yang keluar dari mulut beliau. “Untuk semester dua, kelas kalian akan disusun berdasarkan nilai. Agar memudahkan kalian dan juga guru-guru untuk pemerataan ilmu yang diterima”. Wajah kami yang awalnya berseri-seri karena pengumuman the best ten seketika berubah muram. Mana janji itu. Janji kalau kami tidak akan dibeda-bedakan, kalau kami semua sama. Apa karena tidak ada kepala sekolah lagi, sekolah jadi sesuka hati mengutak-atik sistem yang ada. Pak Fachrudin, kepala sekolah kami sudah mengundurkan diri ketika kami naik ke kelas XI dengan alasan tertentu. Lebih parahnya lagi, mengapa perubahan ini dibuat pada pertengahan semester. Di sekolah manapun, setiap perubahan dibuat pada awal semester. Berbagai pemikiran jelek menari-nari di pikiranku.
Aku kembali ke asrama dengan wajah yang mengalahkan benang kusut. Di asrama kami yang sepuntung, begitu sebutan Risnan, salah satu temanku untuk asrama kami yang memang dibagi menjadi dua bagian, sebagian untuk sekolah dan sebagian lagi untuk sekolah, sudah heboh dengan ultimatum sekolah yang baru. Mereka meneriakkan isi puisi “Sajak Palsu” yang pernah dibawakan teman-teman ketika pementasan drama. Puisi itu memang lagi populer dikalangan Angkatan Satu (AngSa). Ya, puisi itu sangat cocok untuk sekolah yang penuh dengan janji palsu. “Asrama PALSU! Baju PALSU! Buku PALSU! Sekolah PALSU! Mukamu PALSU!” Semua yang kami jumpai selalu kami sebut PALSU!
Aku mengikuti kegiatan belajar dikelas yang baru dengan tangan teman-teman lama, walaupun belum bisa menerima sistem baru ini. Hari-hari berlalu dan aku mulai agak terbiasa dengan kelas Algoritma ini. Kami sering menanyakan nilai-nilai anak kelas Avicenna kepada guru setiap selesai ulangan harian. Begitu juga dengan kelas Avicenna. Awalnya hanya sekedar ingin tahu, namun lama kelamaan ada rasa saling membandingkan nilai yang satu dengan yang lain. Setiap ada perlombaan antar kelas, pasti ada beberapa kelas yang uring-uringan karena merasa lawan tidak seimbang. Tanpa kami sadari, timbul perang dingin antara Algoritma dengan Avicenna. Ditambah lagi beberapa guru yang membandingkan nilai Algoritma dan Avicenna.
Lama-kelamaan aku merasa tidak nyaman dengan keadaan sekolah yang seperti ini. Teman-teman yang dulunya seperti keluarga berubah menjadi dingin dan saling mencurigai. Ternyata teman-teman juga merasakan hal yang sama. Awalnya kami sama-sama menentang sistem baru yang dibuat sekolah yang menurut kami membuat jarak diantara kami. Namun, tanpa kami sadari, kamilah yang membuat jarak itu. Kami sepakat untuk mengadakan tahajud bareng dan sharing. Ditemani oleh Ummi Windi, kami memulai sharing kami dengan terlebih dahulu shalat tahajud berjamaah. Setelah sharing, kami menemukan titik yang menjadi sumber masalah. Kemudian kami menyelesaikannya bersama-sama.
Akhirnya permasalahan kami selesai. Aku sadar, selama ini aku sudah berpikir buruk tentang sekolah. Padahal sistem ini dibuat demi kebaikan kami. Setelah aku pikir-pikir banyak juga manfaat dari pengelompokan kelas ini. Karena dalam satu kelas punya tingkat penalaran yang sama. Kita tidak akan takut untuk bertanya atau minta penjelasan lebih. Guru juga akan lebih mudah untuk mengajar karena tidak takut kecepatan atau kelambatan dalam menyampaikan materi. Dan sebenarnya perbedaan itu indah. Bayangkan kalau semua orang sama. Aku tidak tahu bakal jadi apa dunia ini.

Aku bersyukur memiliki teman-teman AngSa (Angkatan Satu). Secara morfologi mungkin orang-orang menganggap kami anak SMP. Tapi ketika ada masalah kami bisa menyelesaikan layaknya orang dewasa. Kebersamaan, musyawarah, sharing dan tukar pikiran adalah ciri khas kami. Banyaknya masalah yang kami hadapi membuat kebersamaan kami semakin erat. Karena kami "One for All, All for One". Dan tidak ada lagi kata PALSU!

AmM, Deli Serdang, 2012
Previous
Next Post »