Sebuah Dugaan

Selama ini aku menganggap bahwa teman sama seperti parasit, yang hanya mengambil segala kesenangan tanpa memikirkan penderitaan si korban. Selama ini aku tak pernah merasakan adanya peran seseorang apalagi sekelompok teman dalam tiap dukaku. Sebagian bahkan seluruh sukaku ada pada mereka. Tapi dukaku, hanya bisa kutelan sendiri sampai tenggorokan ini sakit menahan tajamnya yang tak seorangpun mau berbagi.
Aku juga menganggap bahwa teman hanya memanfaatkan keberadaanku sebagai pembantu baginya. karena itu aku berpendapat bahwa teman adalah parasit besar yang mampu merubah kepribadianku. Aku seperti orang yang takut bersosialisasi terhadap mahkluk lain dan lingkungan. Aku seperti hidup sendiri dengan segala ketertutupanku. Aku tidak pernah mengenal yang namanya kebersamaan, kepedulian dan pengorbanan. Bahkan sahabat kecilku sama sekali tidak membawa pengaruh buatku.
Tetapi, aku merasakan hal yang berbeda saat aku menginjakkan di SMA Unggulan CT Foundation ini. Segalanya berbeda. Kali ini parasit-parasit yang kutemukan adalah parasit tingkat tinggi. Parasit yang membuatku menderita bila tidak menemukan, merangkul, dan mencubit mereka. Aku menangis, galau dan tersiksa bila membayangkan wajah-wajah parasit yang mungil, imut ketika aku merindukan mereka. Menagis bukan karena dimanfaatkan, tapi karena aku takut kehilangan wajah-wajah parasit yang mendominasi sebagai bintang tamu dalam mimpi dan nyataku.
Aku galau bukan karena tak tahu bagaimana cara mengerjakan PR parasit-parasit ini setelah pulang sekolah,sementara tugas rumah tidak kalah banyaknya. Tapi karena aku tidak tahu bagaimana caranya agar mudah untuk melepas seekor  AngSa yang menjadi bagian hidupku. Aku tersiksa bukan karena sepulang sekolah dipukuli oleh parasit-parasit ini. Tapi, karena aku takut berpisah dengan mereka, dan harus merindukan senyum manis saat melakukan kejahilan yang tak sanggup kulupakan.

Kalau saja ada pernyataan logika hidup P  --> Q dalam arti jika tidak menulis kenangan ini maka tidak ada kata berpisah maka dengan tegas kuberkata, tidak akan menulis kenangan ini. Tetapi Allah lebih berkehendak dengan pertemuan maka ada perpisahan. Sebagai manusia aku hanya bisa menerima takdir. Aku mensyukuri perubahan yang terjadi pada diriku. Yang dulu wajahku bawaannya seperti jeruk purut, kini lebih berseri dan mudah senyum. Yang dulu aku pendiam dan sangat tertutup,kini menjadi orang yang bisa bebagi dan mungkin agak lebih centil. Suka duka yang yang menjadi hal biasa bagiku dan mereka sebagai keping-keping yang mampu mempersatukan kami.

Parasit-parasitku, kalian merubah kepribadianku menjadi lebih nyata. Aku tidak harus menganggap kalian apa, apakah sahabat, atau keluarga. Kukatakan sahabat karena kalian sudah sangat baik dan peduli padaku. semuanya kita jalani bersama. Aku katakan keluarga, karena aku hidup,makan,belajar, tidur, cerita, menangis, bahkan sebagai korban fitnahpun sama. Bagiku kalianlah abangku, kakakku,dan kalianlah sahabatku.

Mas, Deli Serdang, 2013
Previous
Next Post »