Jenuh

 “Berlarilah...!,
saat titik jenuh tertinggi itu datang”

Belajar. Yah, itulah kewajiban bagi setiap murid, tak terkecuali aku. Tiga tahun belajar dengan segala tuntutan keras membuat aku menemukan satu titik yang di sebut jenuh. berawal dari titik itu aku menemukan ini. sebuah pengalaman dan  pelajaran hidup yang berarti.
 Beberapa bulan menjelang ujian nasional sekolahku mengadakan kelas tambahan untuk persiapan ujian nasional, karena kami memang sudah komitment bahwa apapun yang terjadi, setiap ujian kami harus jujur bahkan ujian nasionalpun kami wajib jujur tanpa ada bocoran kunci.
 Hari-haripun berlalu, tak terasa ujian nasional kini mulai menghampiri, sekolahkupun  mengadakan antisipasi dengan mengadakan simulasi ujian nasional. Hasil simulasi pertamaku alhamdulillah  lulus, walau dengan nilai yang tak terlalu bagus memang. Namun, semakin hari aku bukannya merasa semakin semangat tapi justru aku merasa semakin jenuh dengan berbagai pelajaran, aku muak dan tak jarang aku tak memperdulikan apa yang di sampaikan guru. Tak terasa kini ujian nasional tak kurang dari tiga minggu lagi akupun mulai memeras otakku, belajar sana sini, karena aku tau bahwa hasil simulasiku minggu kemarin sangatlah buruk sampai-sampai aku tak lulus, mungkin memang karena rasa jenuh yang selalu kuturuti dan akhirnya membuatku lalai. Akhirnya di simulasi terakhir aku coba untuk bangkit dan melawan rasa jenuh itu dan hasilnya aku lulus, walau dengan nilai yang masih kurang bagus.
Hari itu aku mendengar kabar akan diadakanya yudisium bagi siswa-siswi yang tidak lulus di dua simulasi terakhir. Aku beserta teman-teman yang tidak lulus dua simulasi akhirpun dipanggil ke ruang rapat guru. Saat kami masuk kami  melihat beberapa guru bidang study sudah berada di dalam beserta kepala sekolah dan wakilnya. Saat itu juga rasa deg-degan menyerbuku tapi, kucoba tetap tegar. Satu per satu dari kami disidang dan ditanyai dengan kasarnya oleh kepala sekolah. Walau aku sadar itu hanyalah trik untuk membakar semangat kami, tapi ntah mengapa rasa takut dan sakit hati dengan apa yang di ucapkan kepala sekolah tak mampu untuk ku lempar jauh dari hatiku. Kata - kata itu memang cukup pedas.

Selesai arahan dari kepala sekolah acarapun di lanjutkan dengan arahan dari dewan guru. Selama arahan berlangsung aku tak hentinya meneteskan airmata walau terkadang aku mencoba tegar namun, tak bisa. Aku merasa sangat bersalah terhadap para guru, lantaran tidak memberikan hasil yang terbaik dan pernah bersikap acuh dengan apa yang mereka terangkan di kelas. Mereka terus memberi masukan, harapan-harapan mereka dan terus membakar semangat kami walau tak jarang air mata merekapun menetes. Mereka bilang “Kalian pasti bisa nak, semangat nak, kami yakin kalian pasti bisa”. mendengar itu hatiku seakan terhenyak. Mereka bisa seyakin itu, kenapa aku tidak?, kenapa aku tak peduli selama ini?, dan kenapa aku kini hanya bisa meneteskan air mata. Aku harus bangkit aku tak boleh lagi bersantai diri. Jangan biarkan mereka kecewa dan meneteskan airmata kesedihan lagi. Aku berjanji akan membuat mereka tersenyum dengan mewujudkan harapan mereka untuk menjadi manusia sukses, aku yakin pasti bisa.

DAO, Deli Serdang, 2013
Previous
Next Post »