Gagal Bukan Halangan

“Hidup memang  penuh liku-liku, ada suka dan duka. Akan tetapi, jika kita memaknai hidup, maka hidup ini akan lebih indah dan berharga.”
Aku pernah bersekolah di SMP Negeri sebelum aku menginjakkan kaki di sekolah yang menjadi impian setiap orang, SMA Unggulan CT Foundation. Waktu luang yang banyak setelah sekolah sering aku gunakan untuk bekerja dan belajar. Untuk prestasi sekolah, Alhamdulillah.. selalu juara kelas sejak kelas VII.
Ayahku yang berprofesi sebagai penjual mainan membuatku memiliki modal yang diperlukan. Aku sering mengambil mainan ayah sebagai modal awal. Lalu, dijual. Modal akan aku kembalikan, kalau ada untung itulah yang akan kugunakan untuk jajan dan tabungan.
Aku selalu merasa bersalah apabila meminta uang saja pada orang tua. Untuk memenuhi kebutuhan, aku bekerja di warnet sebagai teknisi atau penjaga. Awalnya coba-coba, karena aku tidak tahu sepenuhnya tentang komputer. Akan tetapi, setelah diajari, aku memperoleh banyak ilmu,  keuntungan finansial, juga teman-teman baru.
Semua usaha ini ku jalankan sendiri dan hasilnya ku tabung di rekening ayah. Kegiatan ini masih kulakukan sampai aku berada di CTF. Saat perpulangan, aku masih sering melakukannya.
Sejak di CTF, aku lebih fokus ke pendidikan, sehingga bisnis tidak sering lagi membenahi pikiranku. Pertama kali aku datang ke sini, sempat terlintas dipikiranku, bagaimana cara mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan tanpa telalu memberatkan orang tua?
Ternyata ada program entrepreneur, yaitu membentuk sebuah kelompok usaha untuk menghasilkan uang yang menjanjikan. Mulailah aku mengikuti kegiatan bussines class ini. Saat aku kelas X, aku bergabung di kelompok Fish Pool Community. Usaha kelompok ini adalah memelihara ikan. Aku begitu tertarik, karena aku memiliki skill dan pengalaman yang kurasa cukup untuk mengelola usaha pemeliharaan dan penjualan ikan tersebut. Setelah aku ikuti, sepertinya usaha ini menunjukkan neraca keuangan yang kurang sehat. Sehingga, akhirnya aku memutuskan untuk keluar, begitu juga dengan teman-teman dari kelompok lain yang merasakan hal yang sama sepertiku. Kemudian, terbentuklah kelompok wirausaha baru, Volvariella Volvaceae namanya. Kelompok ini bergerak di usaha budidaya jamur tiram dan diprakarsai oleh Bu Citra.
Ketika pembentukan kelompok usaha baru ini, aku bertekad tidak akan gagal lagi seperti pada kelompok sebelumnya. Kemudian, setelah usaha ini mulai menunjukkan progress yang mengesankan, yakni telah mampu menguasai pasar di RAM, tiba-tiba masalah tak terduga muncul. Hasil panen jamur yang melebihi permintaan membuat aku dan anggota kelompok usaha ini harus mengalihkannya ke pasar di luar RAM. Tentu saja itu bukan pekerjaan yang mudah. Ditambah lagi konsentrasi kami dalam bisnis ini buyar saat seluruh anggota yang berjumlah lima orang ini mengikuti olimpiade. Hari-hari kami habiskan untuk belajar olimpiade, dan akhirnya bisnis jamur kami terbengkalai.
Saat kami di kelas XII, tidak boleh mengurus bisnis jamur lagi dan diharuskan mengembalikan pinjaman modal pada sekolah. Modal sekolah mungkin terbayar, tapi modal dari kantung sendiri tak terkembalikan. Hal ini menandakan aku telah gagal lagi dalam berbisnis di CTF.
Tetapi aku menganggap itu hal biasa, karena saat bekerja di rumah aku juga pernah gagal dalam berdagang. Dan aku dapat mengambil sebuah pelajaran, bahwa tanggung jawab, dedikasi yang tinggi, disiplin, keseriusan, pantang menyerah, dan do’a adalah kunci keberhasilan dalam membangun usaha. Mulailah usaha itu dari yang kecil-kecil, lalu berkembang di skala besar. Jangan putus asa dan terus mencoba jika gagal. Mungkin aku orang yang paling banyak rugi di dua kelas bisnis yang aku ikuti karena keuntungan rendah atau termakan modal, tetapi aku tetap berpikir positif.
Bagiku yang terpenting, aku telah mencoba. Sebuah pengalaman juga pelajaran yang aku dapatkan. Kalau tidak pernah mencoba kita tidak akan pernah tahu bagaimana susah dan senangnya dalam membangun bisnis. 

MGun, Deli Serdang, 2012
Previous
Next Post »