Pilu pada Semester demi Semester

Berakit-rakit ke hulu
Berenang –renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Hah.... Itulah yang pertama kali terucap dari bibirku. Masuk ke kamar asrama, ruangan warna putih petak seperti rumah sakit dengan 6 orang tiap kamar.“ Mau ngapain aku di sini? Apa bisa aku betah?” pikirku.
Sambil mencoba beradaptasi, sekolah di CTF terus berjalan dengan jumlah kami 61 orang. Mid semester satu merupakan tamparan keras bagiku juga bagi teman-teman yang lain karena hampir semua kami remedial. Nilainya ditulis murni ke raport. Parahnya, nilaiku ada yang empat....E-M-P-A-T, parahkan??
Pada semester satu, tetap juga tidak ada perubahan. Jangankan juara, malah masih ada yang remedial. Pukulan berat untukku, pada saat itu memang sangat parah. Sangat berbeda ketika SMP dulu. Inilah CTF, yang masuk the best ten pergi jalan-jalan sebagai penghargaan. “Pengen ikut....tapi.....!!!!”
Lanjut semester dua, masih ada juga yang remedial. Gagal lagi keinginanku untuk ikut menjadi peserta jalan-jalan the best ten. Tapi, ada yang lebih sedih. Aku harus merelakan 10 orang dari teman seperjuanganku keluar dari CTF. Keluar karena kurang memenuhi standard CTF. Sakit hatiku karena harus berpisah dengan mereka. Aku cuma bisa menangis. Dan aku, aku masuk kriteria naik kelas bersyarat, keberadaanku masih dipertimbangkan selama 6 bulan disini. Ada juga yang naik kelas percobaan. Ahh...aneh-aneh namanya.
Disemester tiga, nilaiku alhamdulillah meningkat. Aku yang dulu naik kelas bersyarat, kini menjadi siswa monitoring. Aku masih butuh pengawasan. Aku masuk kelas XI IPA I. Kelas diurutkan berdasarkan nilai dari juara. Juara 1 sampai 25 berada di kelas XI IPA I (Algoritma), juara 26 sampai 51 berada di kelas XI IPA II (Avicenna). Satu sisi aku merasa senang masuk kelas Algoritma karena bergabung dengan teman-teman yang masuk the best ten. Tapi, terkadang aku merasa minder karena mereka cas-cis-cus ketika menjawab pertanyaan. Sedangkan aku. Aku biasa saja. Namun aku juga merasa sedih karena harus berpisah dengan teman-teman yang ada di Avicenna. Kami merasa dikhianati oleh sistem. Dulu, katanya tidak ada perbedaan tentang urutan juara. Semua merasa terpukul. Isak tangis di mana-mana. Tapi, semua akan baik jika dinilai positifnya. Kami, terutama aku di kelas Algoritma menjadi semakin giat belajar, karena aku harus mengimbangi teman-teman di kelas Algoritma. Teman-teman di Avicenna juga semakin termotivasi untuk belajar karena mereka ingin menunjukkan pada sekolah bahwa mereka BISA. Bahwa bukan Algoritma saja yang bisa, tapi Avicenna juga BISA. Karena kami tidak memiliki perbedaan. Sekarang semester empat. Ternyata belajar tidak harus ada iming-imingnya “jalan-jalan”. Jujur, karena kejadian semester tiga, aku belajar bukan untuk tujuan jalan-jalan lagi. Tapi, belajar karena niat dari dalam hati. Belajar dengan tujuan tertentu memang baik. Tapi, akan lebih baik jika belajar dengan ikhlas, sungguh-sungguh menuntut ilmu dan jadi yang terbaik. Yakinlah, karena tanpa kita ketahui, menuntut ilmu karena Allah akan dibalas oleh Allah. Buktinya, dulu aku berkeinginan jalan-jalan dengan anak yang berprestasi, tapi tidak bisa dan tidak pernah kesampaian. Sekarang, tidak ada kepikiran untuk jalan-jalan, aku malah jalan-jalan karena tidak ada remedil, Alhamdulillah. Terwujud.

Terakhir semester lima. Karena usaha dan doaku, Allah mengizinkan aku untuk juara 2 di kelas XII Alexa. Siapa yang nyangka? Aku saja tidak percaya. Dulu, aku yang masuk kelas klinik, naik kelas bersyarat, kelas monitoring. Akhirnya bisa juga. Tidak ada yang tidak mungkin. So, ini ceritaku. Bagaimana cerita kalian? Pasti ada yang lebih baikkan? Jangan mudah menyerah. Semua akan baik akhirnya. Dulu, aku berpikir “ Apa aku bisa betah di sini?”. Sekarang aku bertanya “ Sanggup tidak aku meninggalkan sekolah ini?”. Berat rasanya. Aku pasti merindukan kalian. Tapi hidup harus terus berjalankan?

Hay, Deli Serdang, 2013
Previous
Next Post »