Sleeping Beauty

Panggilan itu lah yang diberikan oleh salah satu guru ku di sekolah untuk ku 
“sleeping beauty”

20 Februari 2012

Sang raja siang baru saja menunjukkan kegagahannya, burung-burung kecilpun menari-nari dengan bebasnya di angkasa. Spidol yang Ia pegang pun melesat dengan cepat secepat ungkapan-ungkapan dan wejangan-wejangan yang Ia berikan pada kami hari itu.
“Bi, kalau kita dapat hadiah dari bank itu haram gak? Apa itu gak termasuk judi” tanya Andri salah satu teman sekelasku.
“Itukan hadiah, misalkan Abi mau kasih hadiah ke Muti karena dia pendiam, dan karena diam aja terus tidur”
Ha...ha...ha...
Seisi kelas penuh dengan suara tawa semua siswa di kelas. Betapa sakitnya hatiku saat itu. Saat mereka semua tertawa. Ya, mereka menertawaiku. Saat guruku mengatakan aku tidur. Oke, kuakui aku memang merasa sedikit ngantuk dan kepalaku terasa begitu berat. Dan begitu sakit, entah karena betapa penatnya kehidupan sekolah ku dengan segudang kegiatan dan tugas-tugasnya atau karena aku memang ‘penyakitan’. Entahlah. Tapi aku tidak tidur saat itu. Aku yakin benar. “Aku nggak tidur” gerutuku dalam hati. Aku merasa sangat dipermalukan saat itu, entah oleh guru ku, oleh teman-teman ku atau oleh diriku sendiri. Padahal aku melihat di sekelilingku teman-teman ku tidur denga pulas nya, mereka sedang berada di zona ternyaman mereka. Seperti Ijal, Andri, Lian, dan yang tak perlu kusebutkan lagi. Aku melihat denga sangat jelas jika mereka tertidur tadi, tapi kenapa hanya aku?. Apa karena mereka lebih pintar dari ku? Apa karena mereka memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari aku? Apa karena mereka adalah orang yang lebih di pandang di mata semua orang? Tiba-tiba butiran-butiran air itu memenuhi ujung mataku dan dengan santai nya ia jatuh tanpa permisi dan tanpa melihat keadaan.
You kenapa mut?” tanya Ama pada ku yang duduk di sebelahku. Entah kenapa hatiku terasa begitu sakit saat itu. Terlebih lagi saat Lian memukul pundakku sambil berkata “Wake up mut”. Uurrgggh... rasanya semakin sakit saja hati ini. Udah dia yang tidur, dia pula yang neriaki orang, emang bener ya pepatah bilang, maling teriak maling itu emang bener. Itulah yang aku pikirkan saat itu.
Aku tidak bisa menahan nya lagi, langsung saja aku melarikan diri ke kamar mandi dan ku tumpahkan semua rasa sakit hatiku. Entah kenapa air itu mengalir begitu deras nya. Sebegitu sakitkah yang ku rasakan? Atau mungkin saat itu aku hanya terlalu sensitive. Ingin rasa nya kucopot mata ini dan ku ganti dengan mata sapi yang besar agar mereka tidak pernah lagi mengatakan ku si sleeping beauty.
Mereka memang tidak tau apa yang ku rasakan, tapi mestikah mereka menertawainya? Atau mestinya aku yang harus menggap itu biasa saja, tidak perlu dibawa serius. Haruskah aku? Dan aku tahu itu adalah rasa kesalku sesaat saja, dan memang begitulah kami. Di satu hari kami bisa saling membenci satu sama lain, dan di keesokan hari nya kami adalah keluarga yang saling mencintai satu sama lain. Lagi.
Saat aku keluar dari kamar mandi aku bertemu Andri dan Eman yang melihatku dengan hidung yang merah seperti jambu air dan mata yang sembab. “You kenapa mut?” tanya Andri yang mungkin Ia merasa bersalah atau hanya ingin tau tanpa menyadari bahwa Ia adalah salah satu alasan aku seperti ini. Aku hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya. Aku masih ingat betul saat Ia dan Zana temanku yang lain yang begitu kerasnya menertawaiku. Aku hanya diam. Karena hatiku belum sanggup untuk menerimanya. Dan sekali lagi aku sadar, itu pasti hanya kekesalanku sesaat.
“Are you cry?”tanya Ama sesampai nya aku di kelas. No dan nothing. Hanya kata itu yang sanggup aku ucapkan saat itu.
“Mut, Muti, you kenapa?” tanya Andri lagi. Aku hanya diam. Lagi. Saat pelajaran Bahasa Inggris di mulai setelah nya pun aku masih belum bisa melupakan kejadian tadi. Aku hanya terdiam, air mata ini masih saja ingin terjun dari mataku. Terlebih saat aku melihat teman-teman ku yang lain tertidur dengan pulas nya saat pelajaran berlangsung. Sekali lagi aku beratanya dalam hati. Kenapa hanya aku?.
            Setelah istirahat makan siang. Saat pelajaran matematika. Tiba-tiba.
“Mut, Muti..” panggil seseorang dibelakangku. Saat aku menoleh ke belakang “Bangun, jangan tidur aja” kata Andri sambil tertawa bahagia begitu renyahnya seperti tidak berdosa. “Udah you yang tidur. Aku pula” terlontar begitu saja olehku dengan nada yang tinggi. Luka itu kembali menganga. Hal yang mustahil untuk orang seperti aku sanggup untuk tidur saat pejaran matematika. MA-TE-MA-TI-KA. Saat kami sedang mengerjakan soal yang bisa dibilang perlu pikiran yang ekstra dan fokus yang tinggi untuk menyelesaikan  nya. Berbeda dengan Ia yang terlahir dengan otak yang encer yang bisa bersantai saat yang lain atau orang-orang seperti aku kesulitan dalam menyelesaikan satu soal saja. Aku begitu merasa di hina. Sekali lagi aku berpikir ingin saja kuganti mataku ini dengan mata sapi agar terlihat lebih besar. Agar mereka tidak lagi mengejek ku.
            Aku berpikir, mungkin Allah menciptakan mereka lebih sempurna daripada aku, dengan mata yang indah, dengan kesahatan yang lebih baik, dan dengan kesempurnaan yang lainnya, tapi sayang mereka tidak mendapat akhlak yang lebih baik. Untuk sementara waktu aku begitu benci pada mereka. Pada mereka yang meneriakiku, pada mereka yang tertawa begitu keras. Tahukah kalian saat aku benar merasa ngantuk, aku berusaha sekuat tenaga agar mata ini tidak terpejam. Agar aku dapat menangkap semua pelajaran yang di berikan oleh guru di kelas. Agar aku dapat mengimbangi kepintaran kalian teman-teman ‘Algoritma’ ku. Teman-teman CTF ku. Hal itu, aku yakin kalian tidak tau semua itu. Karena kalian bisa tidur dengan pulas nya tanpa ada yang menganggu.

            Saat itu aku begitu membenci kalian. Dan sekali lagi aku tau itu adalah rasa kesalku sesaat saja. Aku jamin itu. Dan seperti biasa, kita akan kembali menjadi orang yang saling menyayangi dan saling menjaga satu dengan yang lain. Saat kita sudah dewasa nanti kita akan merindukan masa-masa ini. Masa SMA yang penuh dengan ‘drama’. Dan saat aku atau kau membaca tulisan ini, kita sudah lupa akan hari itu dan aku sudah lupa akan rasa benci ku saat itu. Aku jamin.

SFm, Deli Serdang, 2012
Previous
Next Post »