Rabu, 25 Mei 2011.
Aku kembali bangun dari tidurku. Dengan malas aku beranjak menuju kamar mandi diujung lorong
asrama. Berjalan
gontai karena belum sepenuhnya
tersadar. Ketika akhirnya aku membasuh muka,
aku mulai berpikir jernih, mencoba mengingat
mimpi apalagi yang telah menyinggahi malam-malam yang kulewati
belakangan ini. Lagi dan lagi aku termenung tiada arti, aku lupa kisah apa yang
menjadi bunga tidurku. Dengan pikiran tak menentu aku bergegas berwudhu dan dengan jalan terburu
aku menuju kamar, meraih mukena sekenanya dan bergegas mengikuti teman-temanku
yang sudah terlebih dahulu sholat berjamaah di lobi asrama.
Hari yang telah kunikmati berbulan-bulan lamanya di
sekolah terbaik
ini mulai mendatangkan kejenuhan.
Dengan kegiatan sehari-hariku yang nyaris itu-itu saja. Bangun pagi, sholat
shubuh, mandi, sarapan, morning
inspection, berangkat sekolah, morning
motivation, masuk kelas, belajar, makan siang, sholat zhuhur, belajar, base class time, sholat ashar, mandi,
sholat maghrib, mengaji, makan malam, sholat isya, pemberian vocabulary, belajar, tidur, bangun dan
hal yang sama akan terjadi keesokan harinya. Sekarang
disinilah aku, memperhatikan dengan setengah hati Abi Amin, guru olahraga sekaligus wali asrama putra sedang
menyampaikan nasehat yang aku rasa itu dan itu lagi. Hingga akhirnya ketika
berjalan menuju sekolah aku mulai berpikir dengan keterbatasan kemampuanku
untuk mengubah setidaknya satu kegiatanku setiap hari.
Dan untuk alasan yang tak kuketahui aku ingin ada yang berubah padaku hari ini ialah mimpiku yang
selalu saja tak dapat kutaksir, mimpi indahkah atau
mimpi buruk. Dengan tersenyum bangga telah menemukan ide gilaku yang berharap
perubahan pertama yaitu mimpiku dapat kumengerti dan kuingat
malam ini. Aku menjadi seperti anak bodoh yang tidak sabar menunggu malam tiba.
Mengabaikan apa yang terjadi hari itu. Yang ada dalam pikiranku ialah mimpi.
Aku mulai menerka-nerka dalam diamku mungkin aku akan mimpi bertemu Rasulullah,
oh tidak mungkin akukan masih dibawah kenormalan imannya, mungkin aku akan
bermimpi bertemu presiden RI, ah aku mulai lupa diri kalau aku masih berada
dalam kelasku, tentu saja kelas Mendel. Kalau saja pak Sena guru Kimiaku tidak menanyakan pelajaran terakhir
kali yang kami diskusikan mungkin aku akan terus terhanyut dalam pengembaraanku
menerka mimpi.
Malamnya setelah belajar dengan kelompok gilaku yang
diketuai Muhammad Rizal aku bergegas menuju kamar. Kenapa aku menyebutnya
kelompok gila? Ya, seandainya kalian ada bersama kami waktu itu maka tahulah
kalian betapa gilanya kelakuan Rizal. Sesampainya dikamar aku merebahkan diri
diatas kasurku yang dilapisi sprei warna hijau dengan liris-liris dan motif
krim. Aku memejamkan mata mencoba mempercepat waktu tidurku. Namun yang terjadi
hanya sebuah usaha sia-sia karena belum berhasil memasuki alam mimpi. Aku mulai
memulai jurus jitu untuk tidur, apalagi kalau bukan berkahayal. Aku mulai mengkhayal lewat satu pertanyaan,
jika aku tak berada disekolah ini,
dimana aku?
Aku berjalan diantara pepohonan akasia yang sedang
menaburkan bunganya yang berwarna kekuningan. Aku berlari sekencang yang aku
bisa tapi sebuah tangan menarikku. Aku melihat si pemilik tangan dan mendapati
Mega teman satu kamarku sedang tersenyum menatapku.
“Kok kita ada disini sih
Meg?” tanyaku. Tapi Mega hanya diam dalam senyumnya. Perlahan ia mulai
menyeretku menuju sebuah tempat yang tak pernah kulihat sebelumnya. Sebuah padang
yang tak berujung dihiasi bunga-bunga indah berbagai macam dan warna. Aku terpana.
Entah untuk alasan apa aku merasakan kehangatan menjalari tubuhku. Seakan ada sengatan
tersendiri yang tak bisa kuartikan. Aku
menikmati setiap jenis bunga sambil berlari-lari kecil layaknya anak kecil
bersama Mega. Kami menaiki sebuah bukit, dari sanalah terlihat hamparan padang
bunga yang tiada kulihat ujungnya.
“Meg, kita dimana sih?” tanyaku. Dan lagi, Mega diam. Tiba tiba saja aku melihat satu sosok
yang tak asing sedang berdiri dikaki bukit meneriaki namaku.
“Yuli, Mega,
turun kalian” teriak Anggi. Teman sekamarku juga. Aku melihat Mega mulai
menuruni bukit. Aku mengikutinya dari belakang. Dan aku merasa tubuhku
tergoyang begitu hebat. Aku hanya mampu memejamkan mata.
Kamis, 26 Mei 2011
“Yuli, bangun bangun udah shubuh loh” dengan
perlahan aku membuka mata dan mendapati Anggi sedang menggoyang-goyangkan
tubuhku. Ah, hanya mimpi, sadarku.
Setelah sholat shubuh aku duduk ditepi jendela
sambil tersenyum sendiri mengingat betapa indah mimpiku malam ini.
“Kenapa you li
senyum-senyum sendiri?” Tanya Memei. Temanku
yang tempat tidurnya tepat di sebelah
tempat tidurku.
“Enggak ada” jawabku
sekenanya. Setelah diam cukup lama aku menatap Memei.
“Kalau kita punya kemauan
yang kuat meskipun mustahil dan hal konyol pasti tercapai
ya Mei!” ucapku sambil
menerawang. Aku mulai
berpikir bukan tentang mimpi yang baru saja aku alami, tapi ini adalah suatu
gambaran kehidupan untuk kita agar
berani bermimpi. Meskipun bermimpi untuk
bermimpi.
Aku menatap Memei dan mendapati wajahnya yang kebingungan tapi sebentar saja
sebelum akhirnya ia menjawab lugas. “Asalkan kita usaha, doa dan tawakal”.
Aku hanya tersenyum. Menatap keluar jendela.
Menikmati hari yang beranjak terang. Sekaligus menikmati jemuran kosong yang ada diantara asrama Kenanga dan asrama Sakura.
”Dan esok harus
ada perubahan baru lagi” janjiku
dalam diam.
YHH, Deli Serdang, 2011
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon