Tiga tahun telah berlalu. Bukanlah
waktu yang singkat untuk mengingat dan mengintik ke belakang. Tidak pula mudah
memupuskan kengan yang telah terpatri erat di hati tak pula dapat pula melepas
ikatan yang terikat mati, walau diretas oleh apapun. Kini, saat kulirik jam
dinding, pandangan ku mengabur. Tik tok tik tok, ia berputar mengelilingi
perjalanan waktu, detik demi detik menuju akhir waktu di bumi CTF tempatku
berpijak saat ini. Semua terasa begitu cepat berlalu.
Dulu, saat egois menguasai hati,
sering kali ku terbakar amarah, mendamprat siapapun tanpa ampun. Dulu juga,
saat perkataan orang lain menyinggung perasaanku, mungkin juga cemoohan, sering
kali membuat mataku basah. Menangis. Namun kini, di penghujung waktu, semua hal
yang dulu membuatku marah, kecewa, menangis bahkan tertawa seperti orang gila
hanyalah coretan warna warni tinta kehidupan yang membuat pelangi di dalam
hari-hariku yang terpatri erat oleh alteco cinta didalam hati.
Teringat dulu, saat pertama kali
menginjakkan kaki di sini, di SMA-ku tercinta, juga saat pertama kali diriku
mengenakan seragam putih abu-abu, aku mendapatkan seorang teman yang baik
bagiku. Setiap hari setelah keakraban kami yang di awali senyuman, ia selalu
mengajakku kemanapun ia pergi. Aku sendiri bukanlah orang supel sepertinya yang
juga suka hura-hura, tetapi tak lebih seorang yang pendiam yang susah bicara di
depan orang lain dan cendrung suka menyendiri. Tapi karena tingkahnya yang suka
aneh-aneh dengan mudahnya membuat aku tertawa bahkan tanpa kusadari.
Teman yang super aneh!
Walaupun ia tak semanis selena
gomes, tidak pula sepintar alisa soebandono dan tak pula bintang di sekolahku,
namun ia segalanya bagiku. Ia membimbingku keluar dari dunia sepi yang ku diami
selama ini menuju dunia yang ceria, penuh warna walau tingkahnya yang suka aneh
dan menyebalkan selalu mengusikku. Ia juga suka tidur di kelas tapi ia pintar
sekali untuk mata pelajaran eksak, dan ia sangat benci pelajaran bahasa.
Suatu hari di musim ulangan formatif
bulanan, teman baikku itu sibuk bermain dan lupa belajar bahasa untuk ulangan,
lebih tepatnya malas. Tiba di waktu ulangan berlangsung, ia terlihat syok.
Keringat bermunculan di dahinya. Aku terus memperhatikannya. Ia terlihat begitu
panik. Sungguh aku tak tega melihatnya saat itu. Lima menit selum lembar
jawaban di serahkan, dengan nekatnya aku menukar lembar jawabanku dengannya.
Aku tahu ini salah dan juga hal yang paling di larang dalam ujian, tapi aku
benar-benar tak bisa membiarkannya seperti itu, aku harus membantunya.
Inisiatif dadakan itu diketahui oleh guru dan kertasku di tarik paksa oleh
guru. Namun anehnya, ia bukannya membantuku atau paling tidak menenangkanku, ia
malah menatapku marah dan meniggalkan diriku yang masih kaget dengan suasana
itu. Ia tak ingin duduk di sebelahku lagi, duduk bersama, belajar bersama,
kemana pun bersama, bahkan menatapku tidak.
Berulang kali ku letakkan surat
permohonan maaf untuknya melalui loker, tapi aku selalu menemukannya berakhir
di tong sampah. dan parahnya itu masih utuh alias ia membuangnya tanpa
membacanya. aku begitu nelangsa. dan lebih menyakitkan lagi, ia dekat dengan
orang lain dan ceria seperti biasanya seperti dulu denganku. jujur saja cemburu
membakarku. Apakah ia begitu membenciku? seberapa besarkah dosaku padanya?
padahal aku hanya ingin membantunya, aku tak ingin ia mendapatkan nilai buruk
untuk bahasa karena aku begitu menyayanginya. ia segalanya bagiku. setelah
berbulan-bulan aku tetap menangis menatapnya di kejauhan, aku rindu padanya,
rindu tingkah anehnya.
kini setelah masa SMA kami hampir
berakhir, tiba-tiba aku menemukan kertas putih berisi ucapan selamat ulang
tahun dari orang yang ku rindukan.
Dear sahabatku, Emma....
selamat
ualang tahun ya! semoga panjang umur dan semua do'a kebaikan ku panjatkan
untukmu.
Emma,
Maaf
juga selama ini aku menjauhimu tanpa alasan, aku juga sering membuatmu menangis
diam-diam, ya kan? Maaf karena aku tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu.
kesalahan yang aku dan juga kamu lakukan dulu semata berkenaan masalah prinsip
yang dulu aku tidak bisa ku ungkapkan karena egoisme yang besar. tapi sudahlah,
tak usah dikenag alagi. sejujurnya aku ingin menarik dan memelukmu saat kau
tertangkap basah oleh ku menagis memperhatikanku, namun lagi-lagi jarak kita
sekarang, kau masih ada di hatiku.
Aku
menyayangimu.
Salam
kangenku,
-Nia-
Buliran air mata menggenang dan
tumpah ruah membasahi pipiku. bahagia dan terharu. benarkah seperti itu
keadaannya? Aku sadar, suratnya memberi jawaban yangersirat jelas. walaupun aku
ingin menolongnya saat itu karena aku menyayanginya, namun sayang itu sayang
yang salah di matanya. baginya, lebih baik mendapat nilai telur rebus alias nol
dari pada nilai tinggi tetapi hasil mencontek. Dengan tergesah aku bangkit dan
ingin ku ucapkan terima kasih padanya, tetapi seseorang telah menungguku di
ujung sana. nia. aku berlari menubruk untuk memeluknya bahagia dan menagis
terharu.
"Sudalah Emma, let anything long time ago flow away. All
is well. All the wrong things we've done would go away such the time after
time. I miss you" ,ucapnya membalas pelukku.
NAn, Deli Serdang, 2013
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon